Tampilkan postingan dengan label husna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label husna. Tampilkan semua postingan

26/09/16

Belajar Sepatu Roda Untuk Anak

Lama sekali blog ini tak pernah tertengok sampai berdebu. Musim Pilkada, semua orang membicarakan calon kepala daerah. Tapi bagaimana kalau kita bahas musim yang lain? Musim sepatu roda.

Jadi, entah bagaimana tiba-tiba semua anak-anak sekarang memiliki in line skate alias sepatu roda dengan warna-warna dan corak yang menggoda hati. Hatinya anak-anak tentu saja. Di kampung saya di selatan Jakarta, di jalan sempitnya yang beraspal kasar pun, sore-sore sering terlihat anak-anak berjalan tertatih memakai sepatu roda mereka. Saling berpegangan agar tidak jatuh.

Nah, kebetulan si drama queen "kakak", gadis kami di rumah hobi sekali bermain sepatu roda. Meski tidak bisa dibilang jago, tapi ya lumayan lah. Dan dia main sebelum sepatu roda ini tiba-tiba jadi musim seperti sekarang ini. Maka ketika di taman, di kampus STAN, di pusat perbelanjaan yang mengizinkan pengunjung memakai sepatu roda lalu dia enjoy ke sana kemari dengan in line skate nya dan beberapa orang bertanya bagaimana cara biar bisa sementara anaknya belum bisa, itu ya karena latihannya dah lama. dah berbulan-bulan yang lalu. Jatoh-jatohnya, lebamnya udah gak keitung sampai akhirnya bisa meluncur seperti sekarang. Sementara anak-anak yang lain, karena baru musim, baru saja beli dan baru saja belajar. Jadi si kakak suka keliatan jago dibandingkan yang lain, padahal ya karena lebih dulu latihan dibanding yang lain.

Sekarang, yuk kita bahas tentang sepatu roda untuk anak. Dulu, kami beli sepatu roda niatnya untuk si Mas, agar lebih punya sarana untuk bergerak dan menghabiskan energinya. Awalnya semangat banget, tapi sekali dua kali jatoh terus udahan. Cuma sesekali saja mau main lagi. Sementara si kakak, jatoh berkali-kali tetap penasaran gimana caranya bisa main sepatu roda itu. Sepatu roda pertama (karena sekarang sudah ada yang kedua) yang kami beli untuk mereka, entah merknya apa. Waktu itu karena hanya iseng, yang penting murah, rodanya bulat dan bisa menggelinding. Belakangan baru nyadar, ternyata milih sepatu roda itu tidak sembarangan. Makanya, mumpung masih musim, siapa tahu ada yang ingin anaknya bermain sepatu roda daripada bermain gadget di kamar.


Memilih Sepatu Roda
Bagaimana cara memilih sepatu roda untuk anak? Sekarang banyak sekali produsen sepatu roda, mulai harga 100 ribuan (mendekati 200 ribu sih) sampai yang harganya jutaan. Bedanya apa? Merknya beda, kualitasnya juga beda lah. Karena kita membicarakan sepatu roda untuk anak, kadang sayang beli yang mahal-mahal tapi anaknya bosenan atau tidak serius mau belajar. Tapi beli yang murah ternyata (seperti yang saya rasakan) juga sayang juga karena kualitasnya yang tidak bagus. Intinya, karena produsen in line skate sekarang mirip-mirip barangnya, pilihlah yang rodanya dari karet. Karena ada sepatu roda yang rodanya dari PVC alias plastik. Bunyinya "cethok-cethok" kalau buat jalan. Sepatu roda yang bannya dari karet membuat anak lebih mudah belajar karena lebih mudah meluncur sehingga membutuhkan tenaga yang lebih sedikit. Selain itu, ukurannya juga harus diperhatikan. Hampir semua model in line skate sekarang bisa di-adjust ukurannya. Misal S untuk ukuran sepatu 29-34 (beda-beda setiap jenisnya). Yang pasti jangan beli sepatu yang kekecilan, tapi juga jangan yang kegedean banget. Gak enak lah pastinya kalau kegedean. Walaupun sebenarnya si kakak belajar dengan sepatu yang kegedean dan bannya dari PVC. Ya bisa-bisa aja sih. Tapi akhirnya ya kami harus keluar uang lagi untuk beli sepatu yang lebih nyaman karena sering banget mainnya. Yang foto warna biru putih itu sepatu roda yang buat belajar. Foto yang bawah, sepatu roda baru yang harganya dua kali lipat, wkwkwkwk.

Tempat Belajar

Kalau udah beli sepatunya, yang jadi tantangan kita sekarang adalah di mana bisa bermain sepatu roda. Di jalan? Di mall? Di rumah? Yang pasti tidak semua mall mengizinkan pengunjungnya untuk memakai sepatur roda. Apalagi yang baru belajar. Kalau di jalan terlalu berbahaya bisa ketabrak kendaraan. Di rumah? Si kakak di dalam rumah juga pakai sepatu roda sih. Tapi ya hanya meluncur 3 4 meter terus nabrak tembok. Salah satu tempat yang direkomendasikan untuk belajar adalah di lapangan basket. Tentu kalau pas gak dipakai. Atau lapangan yang sejenis dengan itu lah. Yang diplester halus dan cukup luas tempatnya. Baru nanti kalau sudah bisa, bisa bermain di tempat lain.

Bagaimana Mengajari Anak Bermain Sepatu Roda?

Yang harus diingat adalah, jangan sampai justru orang tuanya yang berambisi anaknya bisa bermain sepatu roda. Karena liat anak tetangga udah bisa, misalnya. Karena tidak semua anak akan nyaman bermain sepatu roda sebagaimana tidak semua orang tua mau disuruh belajar nyetir mobil. Kalau anaknya memang mau, ya baru dibelikan sepatu roda dan diajari. Ditemani belajarnya jangan disuruh belajar sendiri.

Keterampilan mendasar bermain sepatu roda adalah berdiri dengan sepatu roda. Maka pertama kali, ajaklah anak di tempat yang berumput, lalu disuruh berdiri. Berdiri saja, belajar jaga keseimbangan. Setelah itu baru coba berdiri di lapangan basket tadi. Kalau sudah nyaman, coba minta untuk berjalan seperti biasa. Biarkan berjalan sendiri, tanpa dipegangi. Saya sampai sekarang tidak bisa bermain sepatu roda, tapi karena anak-anak ingin belajar, maka saya ajari mereka. Lebih tepatnya saya temani mereka belajar. Dan inti dari bermain sepatu roda kan meluncur. Maka berjalan saja sampai nanti bisa meluncur. Semakin banyak latihan maka akan semakin terbiasa dan semakin ringan untuk meluncur. Tips sederhana agar tidak jatuh ke belakang, minta si anak untuk memegang lutut. Lututnya sendiri, bukan lutut bapaknya. Karena yang paling sakit saat jatuh dari sepatu roda adalah jatuh ke belakang, karena sampai sekarang cuma nemu protektor lutut, siku dan tangan dan belum nemu tempat yang jual protektor pantat.

Nah, setelah bisa meluncur dan gak jatoh, baru nanti mikir bagaimana cara ngerem, cara belok, dan sebagainya.

Masih bingung? Search di youtube bagaimana cara belajar sepatu roda. Bejibun, dari yang ngajarin beneran sampai yang cuma aplot video anaknya belajar sepatu roda yang juga belum bisa. Selamat mengajari anak-anak bersepatu roda!

29/06/12

Menyapih Husna


Saya sedang menikmati diuleng-uleng anak ke dua saya. Fata, dari dulu memang sangat dekat dengan saya. Bahkan tidak masalah baginya di umur 2 tahun 4 bulan melakukan perjalanan Jakarta-Magelang-Solo-Jakarta selama 4 hari hanya berdua dengan saya naik bus. Mlaam hari, sikut saya dicarinya untuk menemaninya tidur. Kalau ada tamu, atau ada teman-teman yang mengaji di rumah sampai malam, kadang ia rela menunggu, gak bisa tidur kalau tidak memegang sikut abinya. Tapi Husna, jauh lebih dekat dengan uminya. Ketika kami pulang kantor, maka Fata akan menyambut abinya, dan Husna akan menyambut uminya. Seakan masing-masing sudah punya jatah sendiri-sendiri. Tapi beberapa hari ini, Husna jadi agak rajin nguleng-uleng abinya, rebutan dengan kakaknya. Saya menikmatinya…

Dengan berbagai pertimbangan, memang akhirnya kami menyapih dik Husna di usia 15 bulan. Tadinya, istri tetap keukeuh memberikan ASI kepada Husna, meski dia agak kepayahan dengan kehamilan yang ke tiganya ini. Dibandingkan dengan kehamilan Fata dan Husna, hamil ke tiga ini, menurut saya yang melihatnya, terasa lebih berat dan menantang. Biasanya ketika hamil, istri tidak kesusahan mencari makan. Semua makanan masuk kecuali susu ibu hamil. Tapi hamil kali ini, lebih agak susah mencari makan yang bisa masuk ke mulut, dan agak susah juga menahannya agar tetap bisa dicerna di dalam perut. Dengan kondisi masih menyusui, semakin payah pula kondisi istri. 

Saran untuk menghentikan pemberian ASI kepada Husna itu datang dari saudara dan para tetangga sejak awal kehamilan. Alasan mereka bukan karena kesehatan ibu atau janin yang dikandung, akan tetapi karena ASI yang keluar dari ibu hamil mengandung racun. Entah itu data dari mana, akan tetapi memang sepertinya sudah kepercayaan turun temurun kalau ASI yang keluar dari ibu hamil mengandung dzat yang berbahaya bagi perkembangan anak yang meminumnya. Tentu kami menghargai dan menghormati saran dari orang-orang yang memperhatikan kami tersebut. Akan tetapi ketika berkonsultasi dengan dokter dan mencari referensi ilmiahnya, pemberian ASI ketika hamil dapat terus dilanjutkan asalkan kondisi ibu dan janinnya sehat. Jadi yang dikhawatirkan adalah kondisi ibu dan kondisi janin. Berdasar hal itulah, selama hampir 4 bulan kehamilan, masih terus berupaya untuk memberikan ASI kepada Husna. Akan tetapi, dengan semakin drop nya kondisi istri, akhirnya diputuskan untuk menyapih Husna, dengan segala hal yang sebenarnya kami berat untuk melakukannya. 

Begitulah, dengan kondisi Husna yang tidak suka susu formula, tidak mau susu UHT, tidak mau minum dengan botol, menjadikan usaha menyapih ini semakin seru.Maka kami harus merubah posisi tidur, agar Husna tak lagi ingat dengan nenen kesukaannya. Kami juga harus memikirkan bagaimana agar bisa menidurkannya tanpa nenen yang selama ini jadi pengantar tidurnya. Pada dasarnya, malam hari saat tidur, ketika biasanya nenen selalu siap menemani Husna kecil bobok nyenyak itulah yang kami khawatirkan dan harus kami cari substitusinya.

Membiarkan umminya menghandle semua tentang masalah penyapihan ini tentu bukan pilihan bagi kami. Maka, untuk membuat Husna lupa dengan nenen umminya, kami berpendapat untuk tidak dekat-dekat dengan umminya dulu. Yang tadinya bobok malam dikeloni ummi, maka sekarang tugas sayalah untuk membobokkannya. Meski kadang gak sabar, dan istri harus turun tangan lagi J. Ketika malam terbangun, biasanya  langsung beres dengan pelukan umminya, maka sekarang saya yang harus menenangkannya. Akhirnya, saat ini saya sedang menikmati kemesraan dengan putri kecil kami. Dengan disapih, maka Husna terasa lebih senang ngelendot abinya, bermanja-manja dengan abinya. Meski ketika pulang kantor, tetap saja yang disambut dulu adalah umminya, hehe. Target saya selanjutnya adalah membuatnya nyaman bepergian berdua sama saya, tanpa ada yang menemani, sebagaimana Fata nyaman bepergian berdua dengan saya, meski berhari-hari..

27/07/11

Menemani Istri Melahirkan (Cerita dan Panduan)

Beberapa hari yang lalu ada sahabat kami yang sedang dirundung galau karena anaknya tak kunjung lahir meski sudah lewat dari hari perkiraan lahir yang diperkirakan oleh dokter. Sebenarnya lewat dari HPL asal kondisinya sehat, itu merupakan hal biasa. Tapi karena anak pertama bagi sahabat kami itu, tentu itu jadi penantian yang mendebarkan. Bukan hanya karena khawatir akan kesehatan janin dan ibunya, tapi lebih karena ingin segera melihat buah hatinya lahir ke dunia.

“Ayo cepat keluar, nanti kita main bersama...”, mungkin seperti itu yang ia ucapkan kepada bayi di perut istrinya, sama seperti yang saya ucapkan ketika anak saya dulu masih dalam kandungan. Sahabat kami itu sedang tugas belajar di Jakarta dan istrinya akan melahirkan di Klaten, kampung halaman mereka. Dan mungkin karena tak mampu lagi menahan kegelisahannya, suatu sore ia memutuskan untuk pulang ke Klaten. Subhanallah, besoknya anaknya lahir. Kalau kata orang-orang, anaknya memang sengaja ingin ditunggui ayahnya waktu lahir J.

Saya jadi teringat saat anak pertama kami lahir. Saya juga sedang tugas belajar di Jakarta, sedang istri saya, karena anak pertama, ingin melahirkan di dekat orangtuanya di Solo. Waktu hari perkiraan lahir, saya sengaja pulang ke Solo untuk menemani kelahiran buah hati kami. Menunggu sampai beberapa hari, ternyata tak ada tanda-tanda bahwa anak kami sudah akan lahir. Akhirnya saya kembali ke Jakarta. Dua hari kemudian, istri mengabarkan bahwa sudah ada tanda kelahiran pada saat malam hari. Saya memintanya untuk tenang, karena biasanya kata orang-orang anak pertama itu agak lama prosesnya. Apalagi waktu itu baru keluar darah dan belum keluar ketuban. Besok paginya baru dibawa ke rumah sakit. Ternyata masih bukaan satu. Dan saya, masih ada satu mata kuliah yang harus diikuti di kampus. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari tiket pesawat sore ke Solo. Kalau sore, biasanya jam 7 baru mendarat di Solo. Sambil terus memantau perkembangan, dan ternyata bukaannya baru bertambah sedikit. Sampai sore pun belum bertambah bukaannya. Akhirnya saya sampai di bandara Adi Soemarmo Solo jam 7 malam, dan sampai rumah sakit sekitar jam 8 malam. Di sana sudah mendapati isri yang sedang kesakitan. Dan bodohnya saya, saya seperti orang yang tak mampu berbuat apa-apa. Melihat istri kesakitan karena kontraksinya sudah semain sering, saya hanya diam da istighfar dalam hati. Mungkin karena itu, istri saya meminta saya untuk memanggil mama mertua menemaninya. Peraturan di rumahsakit itu, persalinan hanya boleh ditemani oleh satu orang. Itu berarti, saya harus menunggunya di luar. Di luar, saya menelpon bapak yang sedang menunaikan ibadah haji di Makkah, minta didoakan agar kalahiran cucunya dimudahkan oleh Alloh.

Akhirnya jam 2 dini hari, anak saya lahir. Prosesnya ditemani oleh mama mertua. Dan saya? Waktu itu posisinya sedang tertidur di kursi, hehe. Saya tak tahu bagaimana proses persalinannya, dan saya merasa sangat menyesal karenanya.

15 bulan kemudian, tiba waktunya istri saya untuk melahirkan anak ke dua. Kami memutuskan untuk anak ke dua ini, kelahirannya dilakukan di Jakarta, tidak perlu pulang ke Solo atau Magelang. Biar lebih mandiri, dan tidak perlu bolak balik Jakarta-Solo/Magelang. Persalinannya dilakukan di klinik bersalin yang tidak jauh dari rumah. Tidak ada keluarga yang datang, tentu saja berarti saya harus menemani persalinan istri. Berbekal pengalaman sewaktu menemani persalinan anak pertama kami, maka pada kesempatan ke dua ini, saya berusaha untuk menjadi suami yang baik dan dapat diandalkan oleh istri saya. Pagi-pagi sewaktu bangun tidur, istri menyadari bahwa ketubannya sudah mulai pecah. Setelah anak kami mandi, saya mengajaknya memeriksakan ke klinik. Di sana diketahui ternyata sudah bukaan tiga, dan ketubannya baru merembes, jadi masih aman. Kami pulang dulu dan menunggu perkembangan. Jam 12, kembali lagi ke klinik untuk menanyakan perkembangan kondisi kandungan dan kapan kemungkinan lahir. “Mungkin malam, pak”, kata bu bidannya. Tapi kami memutuskan untuk menunggu di klinik. Ba’da Ashar, istri sudah merasa tak tahan dan langsung dipindahkan ke ruang persalinan. Melihat istri kesakitan dan proses lahirnya anak saya, utnuk pertama kali dalam hidup saya, mata tiba-tiba jadi berkunang-kunang dan hampir hilang kesadaran. Mungkin ini yang disebut orang sebagai mau pingsan. Saya pun keluar ruangan sebentar untuk menenangkan dan menguatkan diri. Dan akhirnya, saya berhasil melaluinya, menemani istri melahirkan, menguatkannya, memegang tangannya, dan melihat saat-saat anak kedua kami lahir ke dunia. Dan sesaat setelah anak kami lahir dan menunjukkan tangis kencangnya, mama mertua sampai di rumah sakit setelah terbang dari Solo.

Saya tak tahu seberapa penting bagi seorang istri ketika melahirkan, suaminya ada di sampingnya. Saya belum sempat bertanya pada istri. Tapi bagi suami, ternyata hal itu sangat membanggakan dan harus dilakukan. Melihat perjuangan istri melahirkan, saya yakin tak ada suami yang tak luluh kemudian semakin mencintai istrinya.

Apakah anda pernah menemani istri bersalin? Silakan berbagi pengalaman Anda lewat tulisan. Boleh dengan berkomentar pada kolom di bawah blog ini :D.

Anda bercita-cita dan ingin sekali menemani istri melahirkan? Berikut saya copy pastekan panduan bagi seorang suami yang akan menemani istrinya melahirkan. Diambil dari majalah Ayah Bunda.

Jangan pingsan. 
Anda tentunya harus mengetahui apakah Anda takut dan phobia darah atau tidak? Dan ketahuilah, Anda harus siap melihat kesakitan istri ketika melahirkan, terutama jika istri Anda melahirkan secara normal. Jangan sampai pingsan, karena akan mengganggu proses persalinan.

Jangan sibuk SMS-an, memotret tanpa seizin istri atau melakukan kegiatan lainnya dengan hp Anda. 
Pada saat-saat melahirkan, istri tentunya sangat membutuhkan perhatian dan dukungan Anda. Dengan melakukan kegiatan lain, perhatian Anda akan terpecah.

Jangan blank alias tidak tahu apa-apa tentang proses persalinan. 
Sebelum Anda 'nyemplung' ke ruang bersalin, bekali diri dengan ilmu seputar seluk beluk persalinan.

Jangan panik. 
Tetap tenang akan memudahkan Anda berpikir jernih saat mengambil keputusan. Lagipula, disaat-saat penuh perjuangan seperti itu, istri Anda membutuhkan penguatan dan penenangan Anda.

Jangan hanya menonton. 
Coba pelajari cara menjadi pendamping yang efektif bagi istri Anda. Dengan demikian istri Anda benar-benar merasa didukung dan dikuatkan oleh Anda.

Jangan segan meminta kerabat keluar dari ruang bersalin jika istri merasa terganggu. 
Tetap sopan namun tegas bertindak.

Jangan nekat melihat bayi keluar bila tidak tahan melihat darah. 
Jangan sampai Anda malah pingsan begitu menyaksikannya. Namun jika Anda merasa kuat, tidak apa-apa.

Jangan mengabaikan istri setelah bayi lahir. 
Kelahiran bayi memang yang paling ditunggu-tunggu. Namun jangan abaikan istri yang telah berjuang melahirkan. Beri istri ucapan selamat telah menjadi seorang ibu.

Nah, sudah siap menjadi ayah dan suami yang hebat?

20/07/11

Puisi untuk Anakku

Ayo nak, duduk di pangkuanku
Akan aku ceritakan tentang kisah-kisah Rasul yang harus jadi pengetahuanmu
Akan kukisahkan sunnah-sunnah nabimu dan para sahabat yang nantinya akan engkau gugu
Tetang indahnya ukhuwah yang membuat kita ingin meniru

Mari nak, duduk di sini sama abi
Kita belajar tentang bagaimana membaca kitab suci
Tentang harokat dan bunyi huruf ini
Orang bilang, ini namanya mengaji

Anakku sayang
Jadilah engkau setegar batu karang
Karena hidupmu akan penuh dengan ujian
Waktumu tidak boleh kau gunakan kecuali untuk perjuangan

Nak...
Ikut umi-mu dulu
Abi mau (belajar) renang di situ
Karena ngajarin kamu renang itu kewajibanku
Dan aku gak mau menyuruhmu tanpa melakukan dulu

Setelah itu akan kuajak kau memanah dan naik kuda
Kalau gak ada panah, kita main air soft gun saja
Nanti kita sewa
Karena kalau beli mahal harganya

Oh nak
Semoga abi-mu tidak lupa
Bahwa kau hanyalah titipan Alloh semata
Yang bisa diambil kapanpun Dia meminta

Tugas abi hanyalah menjalankan amanah dari Yang Maha Kuasa
Sambil bertawakal atas apa yang dikehendakiNya
Semoga kita sampai pada masanya
Saat aku mengajarimu dan bercerita tentang dunia

19/07/11

Pernah dalam Sejarah Cinta Kita

Pernah dalam sejarah cinta kita, kau dan aku duduk berdua di pinggir pantai nan indah. Entah apa yang kita lakukan, sampai-sampai ada kawan yang mengirim sms mengungkapkan betapa irinya atas pernikahan kita.

Pernah dalam sejarah cinta kita, kau menangis tanpa tahu sebabnya, dan aku bingung karena tak menemukan juga sebabnya.

Pernah dalam sejarah cinta kita, sate ayam dan nasi padang menjadi menu terenak yang kita nikmati. Tidak hanya karena memang lezat, tapi lebih karena porsinya sebenarnya tak cukup untuk kita makan berdua. Kita hanya membeli sebungkus untuk dimakan berdua, karena memang waktu itu finansial kita tak mencukupi untuk membeli dua bungkus nasi.

Pernah dalam sejarah cinta kita, aku merasa sangat bersalah ketika di akhir bulan tak ada uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga kita. Tapi tak pernah sekalipun kau protes dan menggerutu karena hal itu.

Pernah dalam sejarah cinta kita, kau tiba-tiba menangis di angkot yang kita naiki. Sampai-sampai aku harus mengajakmu turun dari angkot itu. Telingamu sedang sakit, sedangkan angkot itu menyetel musik dengan sangat keras, dan sopirnya terlalu bebal untuk menuruti keinginan kita agar mengecilkan volumenya.

Pernah dalam sejarah cinta kita, kau dan aku saling berpelukan dalam tangis. Ketika tak jua muncul janin yang kita rindukan di rahimmu. Tapi pernah juga dalam sejarah cinta kita, kita berpelukan dalam tangis, sesaat setelah pemilu waktu itu. Di pagi yang lelah, alat tesnya ternyata menunjukkan dua garisnya.

Pernah dalam sejarah cinta kita, kau dan aku sama-sama ingin berbuka puasa dengan kelapa muda. Aku membelikanmu dua kelapa, untuk kita kupas di rumah. Di jalan, ternyata tali yang menopang kelapanya putus, jatuhlah satu kelapa kita ke got. Sampai di rumah, aku mengupas satu kelapa untukmu. Menyimpannya di kulkas. Ketika hendak menyantap sore harinya, entah bagaimana, tumpahlah kelapa muda itu. Dan akhirnya kita tak jadi menikmatinya.

Pernah dalam sejarah cinta kita, kau menjadi inspirasi penguat iman dan prinsipku. Hidup di rantau kadang menjadi hal yang tak mudah untuk dilalui. Dan sepertinya, tanpa dukunganmu di waktu-waktu itu, akan menjadi jauh lebih sulit lagi untuk melaluinya.

Pernah dalam sejarah cinta kita, kemudian tiba-tiba ada dua anak yang menyempurnakan puzzle cerita kita. Tiba-tiba saja. Rasanya baru kemarin kita kemanapun hanya berdua, dan sekarang tangan-tangan kecil itu membuat kita tak nyaman lagi kalau hanya pergi berdua saja.

Pernah dalam sejarah cinta kita, aku mencintaimu begitu dalam. Dan semoga selalu dalam sejarah cinta yang kita ukir bersama, cinta itu akan terus menyala dan tak pernah padam. Cintaku, cintamu, cinta anak-anak kita, dalam semangat untuk mencintai-Nya.

Pernah dalam sejarah cinta kita, kemudian aku senang menuliskan perjalanan kita. Agar suatu saat tak pernah kita lupa, bahwa kita melalui perjalanan indah dalam cinta kita.

27/06/11

Edisi Syukur

“Aaabii...”, Fata menepuk-nepuk punggungku dengan tangan kecilnya.
“Cucu”, ucapnya sambil memberikan botol susu yang sudah kosong. Jam 01.00 ternyata. Ngantuk sekali, aku berjalan ke kulkas sambil terhuyung-huyung. Susu UHT punya fata habis, malam ini ia minum ASI perah yang ada di kulkas. Tambah air panas dikit biar gak usah manasin.
“Dingin...”, katanya sambil melempar botol susu yang baru kuisi ke sampingnya. Ia tidak mau meminumnya. Aku ambil lagi botol susunya, kutambah dengan air panas di dispenser biar lebih hangat. Lalu kembali ke kamar dan memberikan botol susu itu ke Fata.
“Taloh...”, anakku meminta untuk menaruh saja botol susunya. Dan dia tertidur lagi, tanpa peduli dengan susu yang sudah payah-payah kusiapkan. Grrrgghhhh... -_-", eh, Subhanalloh... ciptaan Alloh yang satu ini :D



Peran yang sekarang sangat saya syukuri dan nikmati adalah peran menjadi ayah. Setelah bertahun-tahun menunggu. Pertengahan 2007 kami menikah, baru akhir 2009 anak pertama kali lahir. Menunggu hampir 2 tahun sebelum akhirnya test pack istri menyatakan positif pada bulan April tahun 2009. Setelah hamil pun, deg-degan itu belum berhenti, apalagi setelah dokter kandungan menyatakan bahwa anak pertama kami adalah laki-laki. Terus terang, saya tak mengharapkan anak pertama kami berjenis kelamin laki-laki, setelah riwayat keluarga istri yang tidak menyenangkan dengan bayi laki-laki seperti yang ditulis di sini. Tapi apapun itu, karunia Alloh sekaligus takdir Alloh tak boleh kami ratapi. Saya yakin, Alloh yang lebih tahu apa yang terbaik bagi hambanya. Alhamdulillah, sejak dalam kandungan Fata sehat, lahir dalam kondisi sehat, dan tumbuh dengan sehat. 17 bulan sekarang umurnya, sudah bisa berjalan dan bicara.

Husna, adik Fata lahir 2 bulan yang lalu. Waktu Fata berumur 15 bulan. Banyak yang protes ketika Fata masih berumur 6 bulan dan istri sudah hamil lagi. Tapi sebenarnya bukan tanpa alasan kami memutuskan untuk mempercepat anak ke dua. Istri dan saya sedang sama-sama tugas belajar sampai akhir tahun 2011 atau awal 2012 nanti. Mumpung lepas dari rutinitas kantor, tentu akan lebih banyak waktu untuk membersamai anak-anak, pikir kami.

Membesarkan dua batita sekaligus, ternyata memang bukan pekerjaan ringan. Tapi bukan juga pekerjaan berat. Karena kami sadar bahwa ketika adiknya lahir nanti akan butuh ASI dan perhatian lebih dari ibunya, maka sejak hamil muda, Fata berusaha untuk saya ‘ambil alih’. Umur 12 bulan atau kehamilan istri bulan ke 6, Fata sudah terbiasa bobok dengan saya, sampai sekarang. Mandi, bermain, mengganti baju, membersihkan kotoran waktu dia pup, selain menjadi tugas Mamak yang mengasuhnya, juga menjadi tugas rutin saya. Alhamdulillah, ketika adiknya lahir, Fata tidak merasa kehilangan kasih sayang dari siapapun. Tidak dari ibunya, tidak dari saya, tidak juga dari mamaknya. Biasa saja sepertinya. Ternyata ketika dia diajari untuk menyayangi adiknya di dalam perut, rasa sayangnya juga ditunjukkan ketika adiknya lahir. Meski kadang ketika dia mencium, memeluk dan mengajak bermain adiknya bikin jantung deg-degan.

Banyak kerabat yang ketika menjenguk anak ke dua kami bertanya, “Apakah Fata cemburu sama adiknya?”. Alhamdulillah tidak. Tidak pernah dia merebut mainan adiknya atau merengek-rengek ketika salah satu dari kami menggendong adiknya. Baru ketika bouncer, playmate, atau tempat tidur Husna tidak dipakai, dia menggunakannya untuk bermain.

Sekarang, kuliah istri sudah selesai, tinggal menyusun skripsi. Dua bulan lagi pun saya begitu. Semoga bisa lebih banyak waktu di rumah, membersamai tumbuh kembang anak-anak kami, sebelum tahun depan harus meninggalkan rumah dari pagi sampai sore untuk kembali ke bekerja.

“Umur berapa kita punya cucu ya Mi?”, tanya saya ke istri suatu sore.
“Kalau Fata nikah umurnya sama kayak kita, 21 tahun, berarti mungkin 20 tahun lagi, Bi.”

Betul, 20 tahun lagi. Dan itu bukan waktu yang lama. Semoga Alloh memberi kami kemampuan untuk membekali mereka agar siap menjadi muslim/muslimah tangguh yang akan menaklukkan dunia ini. 

Ketika Anak 'Kesundul'



Fata baru berusia 6 bulan ketika kami menyadari ada janin di rahim ibunya. Antara senang dan kaget waktu itu. Sebelum istri hamil, memang saya sempat berkelakar ingin segera memiliki anak lagi, dan semoga anaknya perempuan. Tapi sebenarnya tak begitu serius kelakaran waktu itu. Dan ternyata Alloh mengabulkan perkataan saya. Istri mengandung, dan beberapa bulan setelahnya diprediksi bahwa anak ke dua kami adalah perempuan. Istilah Jawanya, Fata ‘kesundul’, karena seakan tak sengaja mendapatkan adik ketika usia masih kecil. Sebenarnya sih antara kesundul dan tak kesundul, karena tadinya kami berencana memprogram agar adiknya Fata lahir ketika istri skripsi, agar tak terlalu mengganggu kuliahnya. Tapi ternyata Alloh memberi 3 bulan lebih cepat, lahir tepat setelah umminya selesai ujian tengah semester :D.

Tentu tak begitu mudah ketika istri hamil, dengan kondisi yang tak begitu fit, sedangkan Fata masih suka bermanja-manja, minta gendong, dan masih nenen. Kata orang-orang tua dulu, tak boleh menyusui ketika hamil. Tapi menurut dokter dan referensi yang kami dapat, tak masalah menyusui ketika hamil sepanjang tak ada masalah dengan ibunya. Akhirnya sampai umur 13 bulan, Fata masih mendapatkan ASI, sampai akhirnya tersapih dan tergantikan dengan botol dan susu UHT. Tak lulus ASI sampai dua tahun seperti yang dianjurkan, tapi insya Alloh itu pilihan terbaik yang bisa kami berikan.

Selama kehamilan, kami berusaha untuk memahamkan bahwa akan ada adik yang nanti muncul, dan sekarang masih di dalam perut. Entah mengerti atau tidak, selama istri hamil, Fata hobi mencium dan melihat perut gendut umminya, bahkan masih dicarinya sesaat setelah adiknya lahir dan perut umminya kembali kempes. Alhamdulillah, Fata terlihat tak pernah cemburu dengan adiknya. Ketika saya, umminya, maupun mamak yang di rumah menggendong adiknya pun tak pernah diprotes, asalkan dia boleh mencium adiknya. Ketika bobok di kamar, di bouncer, maupun di kasur bayi, adiknya sering ‘ditubruk’ lalu dicium dan kadang dijilati. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang semua masih aman, tak pernah merebut barang-barang ataupun menyakiti adiknya. Meskipun kadang ketika tak dipakai adiknya, bouncer dan barang-barang lain yang memang dulu punya Fata, dipakai, dinaiki dan ingin tidur di sana, padahal sudah tak sesuai dengan bobot dan umur Fata sekarang.

Urusan bobok, sejak tak lagi minum ASI, bobok Fata menjadi urusan abinya. Meski kadang saya tak selalu berhasil membobokkan, dan harus umminya yang turun tangan, tapi kalau malam, Fata bobok sama abinya. Maka saya telah hafal kapan ketika terbangun ia pengen susu, atau pengen pindah posisi dan dikeloni sama umminya. Agak trenyuh kadang ketika ia hanya melihat dengan wajah mupeng waktu umminya sedang ngeloni adiknya. Karenanya, kalau adiknya sudah bobok, istri sengaja mendongeng dan membacakan buku untuk Fata, agar tak merasa dinomorduakan karena kemunculan adiknya.

Alhamdulillah, kami sedang diberi kesempatan untuk belajar membagi cinta tanpa mengurangi cinta kepada yang lainnya. Cinta kami kepada Husna, tentu saja tak akan mengurangi cinta kepada Fata. Dan sebaliknya, cinta kepada Fata semoga juga tak menomorduakan cinta kami kepada Husna. Saya pernah diprotes istri gara-gara belum pernah membuat tulisan khusus buat Husna, padahal dulu saya rajin membuat tulisan untuk Fata, bahkan puisi. Dan memang seingat saya baru ‘Soft Launching Nailal Husna’ saja yang saya tulis untuk putri cantik kami itu. Tapi keknya itu bukan ukuran cinta dan tidak cinta deh, hehe.

Semoga Alloh memudahkan urusan ini, memberi kami kesabaran lebih untuk mendidik masing-masing anak kami sesuai porsi dan kebutuhannya. Tak mudah dan sedikit lelah, tapi kalau yang lain bisa, insya Alloh Tuhan akan memudahkan kami juga untuk menunaikan tugas ini.

Mohon saran dari para suhu dan senior yang telah lebih dulu mengalami hal yang kami alami ini :D

Terimakasih dan salut luar biasa Ummu Husna yang setia dan sabar menghadapi kehebohan Fata dan sedikit kerewelan si kecil Husna. We love you, my dear... 

Ads Inside Post