Tampilkan postingan dengan label hamil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hamil. Tampilkan semua postingan

27/06/11

Dokter atau Bidan?

Kalau nimbrung di obrolan ibu-ibu atau calon ibu ataupun bapak-bapak dan calon bapak, kadang ada topik yang seru untuk dibicarakan. Periksa ke dokter atau bidan? Lahir ditangani dokter spesialis kandungan atau bidan? Ada yang fans berat bu bidan dan mengatakan bahwa sangat tidak perlu memeriksakan kandungan apalagi sampai melahirkan di dokter spesialis kandungan, ada yang penggemar setia dokter sampai-sampai lebih rela antri di dokter kandungan daripada periksa di bidan. Dramatisasi memang, tapi obrolan dua kubu ini masih sering terjadi. Obrolan berikutnya adalah tentang, lahir normal atau cesar? Dan terakhir berlanjut kepada ASI eksklusif dan ASI tak eksklusif. Obrolan yang biasa-biasa saja sebenarnya, tapi terkadang menjadi serius karena ada pihak yang dianggap ‘nyinyir’ oleh pihak yang lain. Dan ada pihak yang terlalu sensitif terhadap pembicaraan itu.

Dokter atau Bidan?

Sewaktu hamil pertama, istri pernah divonis ketubannya kering oleh dokter spesialis kandungan pada saat usia kandungan masuk bulan ke sembilan dengan ditunjukkan hasil USG di layar monitor. Dan saran dokter, harus segera dioperasi sebelum tujuh hari dari waktu periksa tersebut. Kebetulan saat itu istri sedang ada di Karanganyar, Solo karena memang berniat melahirkan di rumah orangtua. Sedang saya sedang di Jakarta karena harus menyelesaikan kuliah. Panik, tentu saja. Tapi karena kebijaksanaan saya (halah), akhirnya diputuskan untuk mencari second opinion. Dan alhamdulillah, opini ke dua dan ke tiga menyatakan bahwa kandungannya baik-baik saja dan masih sangat sehat.

Keputusan untuk segera melakukan cesar itulah yang membuat sebagian orang enggan untuk ke dokter kandungan. Sementara bidan jarang sekali merekomendasikan untuk operasi cesar.

“Makanya ke bidan saja periksanya... kalau ke dokter, dikit-dikit cesar, dikit-dikit operasi”, kata si fulan.

Sebenarnya bidan maupun dokter kandungan adalah sama-sama profesi yang membidangi masalah kandungan dan masalah persalinan. Dan lebih baik mana, dokter atau bidan?

Untuk menjawab, tentu saja tergantung dari kondisi ibu, janin, dan keluarga masing-masing. Dari sisi biaya, tentu saja dokter kandungan relatif lebih mahal daripada bidan. Dari sisi peralatan, biasanya dokter lebih lengkap peralatannya, termasuk USG. Dari sisi pengalaman, bisa jadi bidan lebih banyak pengalamannya, apalagi bidan yang senior. Sedangkan dokter, kalau baru lulus ya tentu saja pengalamannya minim.

Terus, dokter atau bidan? Tentu saja terserah dari kita dan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita. Sama saja, dan kembali kepada kecerdasan kita dalam memilih. Periksa ke bidan pun tak masalah. Sekarang banyak bidan yang membuka praktek dan bekerjasama dengan dokter untuk melayani USG. Dan sebaliknya, dokter kandungan pun di klinik-klinik bersalin juga pasti dibantu oleh bidan untuk melayani persalinan.

Yang pasti, seorang muslimah tentu akan risih ketika dilayani oleh dokter yang laki-laki. Jadi kalau ada dokter kandungan tapi laki-laki dan ada bidan yang perempuan, kecuali force majeur, ya tentu saja milih bidan yang perempuan.

Cesar atau Normal?

Obrolan yang satu ini kadang cukup sensitif. Beberapa orang, dalam obrolan di milis ataupun forum diskusi terkadang memojokkan dan memandang remeh ibu-ibu yang melahirkan dengan cara cesar. “Gak ada perjuangannya”, katanya. Padahal faktanya, tak semua persalinan memungkinkan untuk dilakukan normal. Bayi terlalu besar, pinggul terlalu kecil, kesehatan ibu yang tidak memungkinkan, di antaranya merupakan alasan kuat untuk dilakukan cesar. Dan untuk menyelamatkan ibu dan anak, tak bijak tentu saja untuk memaksakan diri melahirkan secara normal. Dan cesarpun bukan tanpa perjuangan. Lha wong katanya sakitnya bisa berbulan-bulan kok J

ASI eksklusif

Satu hal yang cukup menggembirakan akhir-akhir ini adalah kesadaran untuk memberikan ASI Eksklusif untuk buah hati tercinta, minimal sampai 6 bulan. Jaman dulu, kata orang-orang tua, bayi berumur beberapa hari sudah dikasih nasi, biar gak kelaparan, hehe.

Sayangnya, beberapa ibu tidak memungkinkan untuk memberikan ASI. Entah itu ASInya tidak keluar, ataupun alasan yang lain. Dan topik ini menjadi tak kalah sensitifnya ketika ada orang yang memojokkan ibu lantaran tak bisa memberikan ASI Eksklusif. Lha kalau memang tak memungkinkan, mau gimana lagi?
Kecuali kalau sang ibu memang enggan menyusui anaknya dan lebih suka membelikan susu formula yang mahal, tentu lain ceritanya :D.

Intinya adalah, banyak kondisi yang tidak bisa disamakan antara seseorang dengan orang yang lain. Dan sebagai suami harus mengerti kondisi ini sehingga dapat memberikan dukungan dan semangat untuk ibu dari anak-anak kita.

Semoga bermanfaat

Ketika Anak 'Kesundul'



Fata baru berusia 6 bulan ketika kami menyadari ada janin di rahim ibunya. Antara senang dan kaget waktu itu. Sebelum istri hamil, memang saya sempat berkelakar ingin segera memiliki anak lagi, dan semoga anaknya perempuan. Tapi sebenarnya tak begitu serius kelakaran waktu itu. Dan ternyata Alloh mengabulkan perkataan saya. Istri mengandung, dan beberapa bulan setelahnya diprediksi bahwa anak ke dua kami adalah perempuan. Istilah Jawanya, Fata ‘kesundul’, karena seakan tak sengaja mendapatkan adik ketika usia masih kecil. Sebenarnya sih antara kesundul dan tak kesundul, karena tadinya kami berencana memprogram agar adiknya Fata lahir ketika istri skripsi, agar tak terlalu mengganggu kuliahnya. Tapi ternyata Alloh memberi 3 bulan lebih cepat, lahir tepat setelah umminya selesai ujian tengah semester :D.

Tentu tak begitu mudah ketika istri hamil, dengan kondisi yang tak begitu fit, sedangkan Fata masih suka bermanja-manja, minta gendong, dan masih nenen. Kata orang-orang tua dulu, tak boleh menyusui ketika hamil. Tapi menurut dokter dan referensi yang kami dapat, tak masalah menyusui ketika hamil sepanjang tak ada masalah dengan ibunya. Akhirnya sampai umur 13 bulan, Fata masih mendapatkan ASI, sampai akhirnya tersapih dan tergantikan dengan botol dan susu UHT. Tak lulus ASI sampai dua tahun seperti yang dianjurkan, tapi insya Alloh itu pilihan terbaik yang bisa kami berikan.

Selama kehamilan, kami berusaha untuk memahamkan bahwa akan ada adik yang nanti muncul, dan sekarang masih di dalam perut. Entah mengerti atau tidak, selama istri hamil, Fata hobi mencium dan melihat perut gendut umminya, bahkan masih dicarinya sesaat setelah adiknya lahir dan perut umminya kembali kempes. Alhamdulillah, Fata terlihat tak pernah cemburu dengan adiknya. Ketika saya, umminya, maupun mamak yang di rumah menggendong adiknya pun tak pernah diprotes, asalkan dia boleh mencium adiknya. Ketika bobok di kamar, di bouncer, maupun di kasur bayi, adiknya sering ‘ditubruk’ lalu dicium dan kadang dijilati. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang semua masih aman, tak pernah merebut barang-barang ataupun menyakiti adiknya. Meskipun kadang ketika tak dipakai adiknya, bouncer dan barang-barang lain yang memang dulu punya Fata, dipakai, dinaiki dan ingin tidur di sana, padahal sudah tak sesuai dengan bobot dan umur Fata sekarang.

Urusan bobok, sejak tak lagi minum ASI, bobok Fata menjadi urusan abinya. Meski kadang saya tak selalu berhasil membobokkan, dan harus umminya yang turun tangan, tapi kalau malam, Fata bobok sama abinya. Maka saya telah hafal kapan ketika terbangun ia pengen susu, atau pengen pindah posisi dan dikeloni sama umminya. Agak trenyuh kadang ketika ia hanya melihat dengan wajah mupeng waktu umminya sedang ngeloni adiknya. Karenanya, kalau adiknya sudah bobok, istri sengaja mendongeng dan membacakan buku untuk Fata, agar tak merasa dinomorduakan karena kemunculan adiknya.

Alhamdulillah, kami sedang diberi kesempatan untuk belajar membagi cinta tanpa mengurangi cinta kepada yang lainnya. Cinta kami kepada Husna, tentu saja tak akan mengurangi cinta kepada Fata. Dan sebaliknya, cinta kepada Fata semoga juga tak menomorduakan cinta kami kepada Husna. Saya pernah diprotes istri gara-gara belum pernah membuat tulisan khusus buat Husna, padahal dulu saya rajin membuat tulisan untuk Fata, bahkan puisi. Dan memang seingat saya baru ‘Soft Launching Nailal Husna’ saja yang saya tulis untuk putri cantik kami itu. Tapi keknya itu bukan ukuran cinta dan tidak cinta deh, hehe.

Semoga Alloh memudahkan urusan ini, memberi kami kesabaran lebih untuk mendidik masing-masing anak kami sesuai porsi dan kebutuhannya. Tak mudah dan sedikit lelah, tapi kalau yang lain bisa, insya Alloh Tuhan akan memudahkan kami juga untuk menunaikan tugas ini.

Mohon saran dari para suhu dan senior yang telah lebih dulu mengalami hal yang kami alami ini :D

Terimakasih dan salut luar biasa Ummu Husna yang setia dan sabar menghadapi kehebohan Fata dan sedikit kerewelan si kecil Husna. We love you, my dear... 

Ads Inside Post