Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

10/01/17

Curug Putri: Air Terjun Ekstrim di Banten

Weekend kemarin ada jadwal untuk outing bersama beberapa kawan. Seperti biasa, ketika outing bersama teman atau kolega, saya akan meminta izin apakah memungkinkan membawa sebagian anak-anak saya. Kebiasaan itu saya lakukan agar keluarga tidak kehilangan hak-haknya, begitu juga saya bisa menjalankan kewajiban-kewajiban yang kadang harus mengorbankan waktu libur kami.

Setelah diskusi, ikutlah mas dan kakak. Destinasi utama adalah ke Pantai Carita dilanjut dengan air terjun di depan Pantai Carita. Perjalanan dari Jakarta memakan waktu kurang lebih 3 jam dengan kondisi lancar. Menyusuri pinggir Pantai Anyer, sampai di Carita Seapark, kami belok ke kiri. Jalanannya kecil, tepat di seberang Carita Seapark. Sangat kontras dengan pemandangan pantai, kami langsung disuguhi jalan yang menanjak dengan kanan kiri hutan. Kondisi jalan awalnya adalah beton, tapi kemudian ketemu dengan jalanan berbatu yang tidak rata. Beberapa kali terasa bagian bawah mobil mentok batu karena kurang hati-hati dalam memilih jalan. Kira-kira 10 menit perjalanan, kami sampai ke tempat parki mobil. Tidak begitu luas, tapi muat untuk sekitar 10 mobil. Penjaga parkir mengatakan bahwa kami harus berjalan 200 m untuk mencapai pos pertama.Bisa naik ojeg sebenarnya, tapi si kakak dengan mantap memilih jalan kaki. "Biar seru!", katanya.
Mas dan Kakak jalan kaki dari parkiran menuju pos pertama
Sesampainya di pos pertama, kami bertemu dengan petugas penjaga. Sempat diingatkan agar berhati-hati karena membawa anak kecil, mengingat medannya yang jalan setapak dengan jurang yang cukup dalam. Sempat merasa tidak enak mendapat peringatan seperti itu, tapi karena sudah sampai sana, bismillah semoga tidak apa-apa. Di pos pertama, ada beberapa penjual makanan. Kami memutuskan mengisi perut terlebih dahulu dengan sepiring mie instan. Harganya wajar. Rp. 10.000 dengan telur. 

Setelah cukup kenyang, kami mulai berjalan. Tak jauh dari warung, kami langsung bertemu dengan jalan setapak. Track-nya mirip dengan track ketika kita naik gunung. Setapak, melewati pohon-pohon yang tumbang, naik turun, sesekali melewati mata air yang jernih.
Tracking tersebut memakan waktu kurang lebih 1 jam, lalu kami sampai di sebuah Curug. Saya lupa namanya. Tapi kami justru sampai di atas curug tersebut. Baru kali ini saya menikmati curug justru dari atasnya. Biasanya kan dari bawahnya. Karena penasaran, kami coba untuk turun, berharap akan bisa bermain-main air terjun di bawah sana. Jalanannya curam dengan batu-batu besar. Tapi anak-anak bisa sampai bawah. Sesampai di bawah ternyata kami di posisi agak jauh dari air terjun, tidak punya bisa menikmati pemandangan air terjun karena posisinya menikung. Untuk benar-benar sampai di air terjun masih harus melewati sungai yang sayangnya cukup dalam. Jadilah dengan kecewa kami naik lagi.
Untuk mencapai air terjun harus melewati sungai yang sepertinya dalam itu

Beberapa guide menyarankan kami untuk melanjutkan perjalanan ke Curug Putri. 
"Hanya 300 meter sampai pos penjagaan pak, setelah itu lanjut menyusuri sungai", kata mereka berusaha meyakinkan kami. Anak-anak sebenarnya sudah merasa capek dan ingin bermain air di sungai saja. Tapi karena juga penasaran, saya coba bujuk untuk mau jalan sedikit lagi. 

Sampai di pos, ternyata sudah banyak sekali pengunjung di sana. Penjaga menjelaskan kepada kami untuk menitipkan semua barang yang tidak tahan air. 
"Bisa bawa kamera gak mas?"
"Nanti harus berenang, pak. Susah bawa kamera", jelas mereka
"Aman gak ni bawa bocah?"
"Aman pak. Kemarin ada yang lebih kecil, pak. Di sana banyak pemandu."

Kami membayar Rp. 15.000,00 per orang, menitipkan semua barang termasuk sepatu, lalu mulai menyusuri sungai. Tidak mudah karena banyak batu-batu baik besar maupun kecil. Tak berapa lama, kami langsung ketemu dengan dinding batu di kanan kiri sungai yang menjulang tinggi. Bertekstur halus dengan gurat-gurat alami akibat goresan air. Jarak antara dinding batu antara 5-2 meter, semakin dekat dengan curug, semakin sempit. Udara cukup dingin. Lalu kami sampai pada sungai yang cukup dalam. 3 meter berdasar informasi dari guide. Kami diberi pelampung, lalu berenang dengan bantuan sebuah tali yang diikat dan dijaga oleh petugas. Anak-anak? Mereka naik ke punggung guide yang bolak-balik berenang untuk membantu yang kesulitan. 
Anak-anak memakai pelampung, terlihat dinding batu dengan jarak cukup sempit
Setelah berenang, memanjat sebuah gerojogan kecil, lalu berenang lagi, akhirnya sampai di destinasi yang disebut Curug Putri itu. Arusnya deras, udaranya dingin, karena baju juga tidak mungkin tidak basah kuyup. dan ternyata curugnya hanya sebuah air terjun pendek. Lebih mirip gerojogan di sungai-sungai kecil. Pemandangan bagusnya ada pada dinding batu yang mengapit sungai tersebut. 

Tak berapa lama, kami memutuskan untuk kembali ke pos. Banyak pengunjung, jadinya tidak nyaman untuk berlama-lama di sana, selain juga sudah mulai kedinginan. Ketika balik harus berenang lagi, menyusuri sungai lagi. Si kakak sudah mulai rewel tidak mau jalan. Karena kasihan, saya gendong sambil jalan menyusuri sungai. Karena batu-batuannya cukup banyak, kami malah tergelincir dan kakak terbanting ke sungai. Alhamdulillah ada teman yang sigap menolong dan ganti menggendong si kakak. Tak berapa lama, teman saya juga jatuh. Jadilah si kakak jatuh dua kali. 
mengembalikan mood kakak setelah berkali-kali jatuh, dengan segelas minuman hangat
Setelah semuanya pulih, semangat pulih, fisik juga pulih setelah beristirahat sebentar, kami langsung berjalan menuju pos awal. 1,5 jam perjalanan lagi. Tentu butuh ekstra kata-kata motivasi untuk meyakinkan bahwa anak-anak masih kuat berjalan. Motivasi mereka, sampai mobil, ketemu AC, lalu bermain di pantai.
Jalan setapak yang langsung berbatasan dengan jurang
Tidak sabar sampai ke parkiran mobil meski sebenarnya sudah sangat capek
Setelah berjalan hampir 1,5 jam, sampai juga di tempat mobil di parkir. Langsung keluar kawasan hutan, bertemu dengan pantai dan mencari spot pantai yang tidak terlalu ramai untuk disinggahi. 
Dikejar ombak
Dan selesailah petualangan hari itu. Sayang, jalan pulangnya macet karena bersamaan dengan bubarnya orang-orang yang menikmati sunset. Mampir ke warung padang untuk mengisi perut yang keroncongan, lalu pulanglah kami dengan dengkuran anak-anak di jok belakang mobil.



26/09/16

Belajar Sepatu Roda Untuk Anak

Lama sekali blog ini tak pernah tertengok sampai berdebu. Musim Pilkada, semua orang membicarakan calon kepala daerah. Tapi bagaimana kalau kita bahas musim yang lain? Musim sepatu roda.

Jadi, entah bagaimana tiba-tiba semua anak-anak sekarang memiliki in line skate alias sepatu roda dengan warna-warna dan corak yang menggoda hati. Hatinya anak-anak tentu saja. Di kampung saya di selatan Jakarta, di jalan sempitnya yang beraspal kasar pun, sore-sore sering terlihat anak-anak berjalan tertatih memakai sepatu roda mereka. Saling berpegangan agar tidak jatuh.

Nah, kebetulan si drama queen "kakak", gadis kami di rumah hobi sekali bermain sepatu roda. Meski tidak bisa dibilang jago, tapi ya lumayan lah. Dan dia main sebelum sepatu roda ini tiba-tiba jadi musim seperti sekarang ini. Maka ketika di taman, di kampus STAN, di pusat perbelanjaan yang mengizinkan pengunjung memakai sepatu roda lalu dia enjoy ke sana kemari dengan in line skate nya dan beberapa orang bertanya bagaimana cara biar bisa sementara anaknya belum bisa, itu ya karena latihannya dah lama. dah berbulan-bulan yang lalu. Jatoh-jatohnya, lebamnya udah gak keitung sampai akhirnya bisa meluncur seperti sekarang. Sementara anak-anak yang lain, karena baru musim, baru saja beli dan baru saja belajar. Jadi si kakak suka keliatan jago dibandingkan yang lain, padahal ya karena lebih dulu latihan dibanding yang lain.

Sekarang, yuk kita bahas tentang sepatu roda untuk anak. Dulu, kami beli sepatu roda niatnya untuk si Mas, agar lebih punya sarana untuk bergerak dan menghabiskan energinya. Awalnya semangat banget, tapi sekali dua kali jatoh terus udahan. Cuma sesekali saja mau main lagi. Sementara si kakak, jatoh berkali-kali tetap penasaran gimana caranya bisa main sepatu roda itu. Sepatu roda pertama (karena sekarang sudah ada yang kedua) yang kami beli untuk mereka, entah merknya apa. Waktu itu karena hanya iseng, yang penting murah, rodanya bulat dan bisa menggelinding. Belakangan baru nyadar, ternyata milih sepatu roda itu tidak sembarangan. Makanya, mumpung masih musim, siapa tahu ada yang ingin anaknya bermain sepatu roda daripada bermain gadget di kamar.


Memilih Sepatu Roda
Bagaimana cara memilih sepatu roda untuk anak? Sekarang banyak sekali produsen sepatu roda, mulai harga 100 ribuan (mendekati 200 ribu sih) sampai yang harganya jutaan. Bedanya apa? Merknya beda, kualitasnya juga beda lah. Karena kita membicarakan sepatu roda untuk anak, kadang sayang beli yang mahal-mahal tapi anaknya bosenan atau tidak serius mau belajar. Tapi beli yang murah ternyata (seperti yang saya rasakan) juga sayang juga karena kualitasnya yang tidak bagus. Intinya, karena produsen in line skate sekarang mirip-mirip barangnya, pilihlah yang rodanya dari karet. Karena ada sepatu roda yang rodanya dari PVC alias plastik. Bunyinya "cethok-cethok" kalau buat jalan. Sepatu roda yang bannya dari karet membuat anak lebih mudah belajar karena lebih mudah meluncur sehingga membutuhkan tenaga yang lebih sedikit. Selain itu, ukurannya juga harus diperhatikan. Hampir semua model in line skate sekarang bisa di-adjust ukurannya. Misal S untuk ukuran sepatu 29-34 (beda-beda setiap jenisnya). Yang pasti jangan beli sepatu yang kekecilan, tapi juga jangan yang kegedean banget. Gak enak lah pastinya kalau kegedean. Walaupun sebenarnya si kakak belajar dengan sepatu yang kegedean dan bannya dari PVC. Ya bisa-bisa aja sih. Tapi akhirnya ya kami harus keluar uang lagi untuk beli sepatu yang lebih nyaman karena sering banget mainnya. Yang foto warna biru putih itu sepatu roda yang buat belajar. Foto yang bawah, sepatu roda baru yang harganya dua kali lipat, wkwkwkwk.

Tempat Belajar

Kalau udah beli sepatunya, yang jadi tantangan kita sekarang adalah di mana bisa bermain sepatu roda. Di jalan? Di mall? Di rumah? Yang pasti tidak semua mall mengizinkan pengunjungnya untuk memakai sepatur roda. Apalagi yang baru belajar. Kalau di jalan terlalu berbahaya bisa ketabrak kendaraan. Di rumah? Si kakak di dalam rumah juga pakai sepatu roda sih. Tapi ya hanya meluncur 3 4 meter terus nabrak tembok. Salah satu tempat yang direkomendasikan untuk belajar adalah di lapangan basket. Tentu kalau pas gak dipakai. Atau lapangan yang sejenis dengan itu lah. Yang diplester halus dan cukup luas tempatnya. Baru nanti kalau sudah bisa, bisa bermain di tempat lain.

Bagaimana Mengajari Anak Bermain Sepatu Roda?

Yang harus diingat adalah, jangan sampai justru orang tuanya yang berambisi anaknya bisa bermain sepatu roda. Karena liat anak tetangga udah bisa, misalnya. Karena tidak semua anak akan nyaman bermain sepatu roda sebagaimana tidak semua orang tua mau disuruh belajar nyetir mobil. Kalau anaknya memang mau, ya baru dibelikan sepatu roda dan diajari. Ditemani belajarnya jangan disuruh belajar sendiri.

Keterampilan mendasar bermain sepatu roda adalah berdiri dengan sepatu roda. Maka pertama kali, ajaklah anak di tempat yang berumput, lalu disuruh berdiri. Berdiri saja, belajar jaga keseimbangan. Setelah itu baru coba berdiri di lapangan basket tadi. Kalau sudah nyaman, coba minta untuk berjalan seperti biasa. Biarkan berjalan sendiri, tanpa dipegangi. Saya sampai sekarang tidak bisa bermain sepatu roda, tapi karena anak-anak ingin belajar, maka saya ajari mereka. Lebih tepatnya saya temani mereka belajar. Dan inti dari bermain sepatu roda kan meluncur. Maka berjalan saja sampai nanti bisa meluncur. Semakin banyak latihan maka akan semakin terbiasa dan semakin ringan untuk meluncur. Tips sederhana agar tidak jatuh ke belakang, minta si anak untuk memegang lutut. Lututnya sendiri, bukan lutut bapaknya. Karena yang paling sakit saat jatuh dari sepatu roda adalah jatuh ke belakang, karena sampai sekarang cuma nemu protektor lutut, siku dan tangan dan belum nemu tempat yang jual protektor pantat.

Nah, setelah bisa meluncur dan gak jatoh, baru nanti mikir bagaimana cara ngerem, cara belok, dan sebagainya.

Masih bingung? Search di youtube bagaimana cara belajar sepatu roda. Bejibun, dari yang ngajarin beneran sampai yang cuma aplot video anaknya belajar sepatu roda yang juga belum bisa. Selamat mengajari anak-anak bersepatu roda!

22/07/11

Berkelahi karena Anak Berkelahi

Pak Merino, bukan nama sebenarnya, berang terhadap keluarga Bu Elle, nama samaran juga. Galbert, anak Pak Merino, diduga terkena pukulan Zildjan, anaknya Bu Elle saat mereka bermain bersama kemudian berebut mainan. Pak Merino kesal karena mainan yang diperebutkan adalah mainan Galbert, dan Galbert pula yang dipukul. Sudah mainannya direbut, dipukul pula. Melihat anaknya menangis dan mainannya rusak, emosi Pak Merino memuncak sampai ke ubun-ubun dan langsung mendatangi rumah Bu Elle. Maksud hati adalah untuk melampiaskan kemarahannya, dan memberi tahu Bu Elle agar Zildjan dimarahi untuk tidak lagi memukul dan merebut mainan Galbert lagi. Untungnya Bu Elle sedang tidak ada di tempat. Hanya pembantunya yang akhirnya hanya geleng-geleng melihat kemarahan Pak Merino. Bagaimana dengan Galbert dan Zildjan? Mereka kembali bermain berdua dan seolah terhapus semua yang terjadi sebelumnya. Kali ini gantian mainan milik Zildjan yang dimainkan berdua. Dan bagaimana Pak Merino? Masih dongkol J

Ketika kita bermasyarakat, anak-anak kita pun juga belajar untuk bermasyarakat. Biasanya dalam lingkungan kita, ada beberapa anak yang sebaya dengan anak kita. Mereka bermain bersama selayaknya apa yang dilakukan anak-anak seusianya. Tapi kadang anak-anak yang bermain dengan anak kita bukanlah anak-anak seperti yang kita harapkan. Mereka dibesarkan dan dididik dengan gaya didikan yang berbeda dengan anak kita, mereka memiliki kondisi keluarga yang berbeda dengan kondisi keluarga kita. Dan tak jarang, anak-anak itu berkelahi karena beberapa hal, dan biasanya sepele. Kadang anak kita yang bersalah, terkadang anak kita yang disalahi atau menjadi korban. Hal yang biasa terjadi, namanya juga anak-anak.

Tapi kenapa Pak Merino sampai harus marah-marah dan melabrak keluarga Bu Elle karena mainan anaknya direbut dan anaknya terkena pukulan? Bisa jadi karena terlalu sayang dengan anaknya, boleh jadi karena tak ingin anaknya terlihat menjadi seorang pecundang, atau bisa saja karena sebenarnya sedang memiliki masalah, dan bertambah emosi setelah dipicu berantemnya anaknya dengan anak tetangga. Berawal dari naluri orang tua yang ingin anaknya menjadi anak yang hebat, berapa orang lebih senang melihat anaknya mempecundangi anak yang lain dan tidak terima ketika anaknya dipecundangi oleh anak yang lain. Tapi apakah perlu, orang tua harus ikut berkelahi ketika anaknya berkelahi dengan temannya? Saya rasa kita sepakat bahwa itu bukan tindakan dewasa dan contoh yang baik bagi anak-anak kita. Mungkin tidak berani melabrak langsung, tpi marah-marah di dalam rumah dan di depan si anak, maka secara tak sadar kita mengajari anak kita untuk menyimpan dendam kepada teman-temannya.

Anak-anak itu, anak kita juga

Hal yang sering kita lupakan adalah, apa yang dilakukan anak kita di luar rumah bersama teman-temannya sering kali tak dapat kita kontrol. Bagaimana teman-temannya, banyak berpengaruh terhadap bagaimana anak kita. Apa yang mereka katakan, akan dengan mudah ditiru oleh anak kita. Apa yang mereka lakukan, akan dengan mudah pula dicontoh oleh anak kita. Kecuali kalau kita mengambil kebijakan untuk mengisolasi anak kita, tidak mengijinkannya bermain dengan anak orang lain, dan hanya membolehkan untuk bermain di rumah dengan saudara-saudaranya sendiri, saya rasa tidak ada pilihan lain kecuali menganggap bahwa teman-teman anak kita adalah juga anak kita. Maksudnya adalah, kita juga memiliki kewajiban untuk ikut mendidiknya. Tentu tidak sama dengan kewajiban se-orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Tapi semangat yang kita bangun dalam benak kita adalah, kalau teman-teman anak kita baik, maka semoga saja anak kita tertular menjadi baik. Dan sebaliknya.

Maka tak masalah, sesekali ikut menegur anak-anak yang bermain di rumah kita atau yang sedang bermain dengana anak kita. Atau sesekali memberi masukan kepada orangtuanya. Tentu dengan cara yang baik dan sesopan mungkin. Saya rasa itu lebih bermanfaat dan bermartabat ketimbang menyimpannya dalam hati, menjadikannya alasan untuk marah-marah, atau bahkan sampai ikut berkelahi ketika anak kita berkelahi.

Semoga bermanfaat.

17/07/11

Tips Pemberian Nama pada Anak

Saat-saat paling genting dan menegangkan saat anak kita telah lahir adalah saat kita harus memberi nama. Lazimnya, nama anak kita akan diberikan oleh ayahnya. Dan tak jarang, tugas untuk memberi nama itu menjadi tugas berat yang menyita pikiran. Kita ingin memberikan nama yang unik, kalau perlu tak ada duanya di dunia ini, dan memberikan kebanggaan kepada anak kita atas nama yang telah kita berikan kepadanya. Berikut ini sedikit tips bagaimana memberi nama bagi anak kita. 

Bangun visi kita terhadap anak
Masing-masing kita tentu memiliki harapan terhadap anak kita kelak. Dan menurut Islam, Al ismu ad-du’a, nama itu adalah doa. Maka ketika memberikan nama bagi anak kita, seyogyanya disesuaikan dengan harapan yang kita sematkan kepadanya. Jika kita menemukan nama yang unik, tapi tidak sesuai dengan keinginan kita, sepertinya harus ditinjau ulang ketika akan meresmikannya menjadi nama anak kita.

Pelajari hal-hal yang disunnahkan dalam pemberian nama
Bahwa pemberian nama itu tidak terikat oleh waktu, boleh hari pertama, boleh hari ke tujuh, dan seterusnya. Bahwa ada beberapa nama yang disunnahkan untuk dipakai, misalnya Abdullah, Abdurrohman, Muhammad, dan sebagainya. Bahwa ada nama-nama yang dimakruhkan (tidak disukai) untuk dipakai, misal nama-nama yang mengandung makna-makna yang menunjukkan perbuatan dosa dan maksiat seperti: Zhalim, Sarraq (si pencuri). Bahwa ada beberapa nama yang tidak disukai bahkan diharamkan, semisal nama-nama yang menunjukkan peribadahan kepada selain Allah seperti Abdul Masih (hamba Al Masih), Abdussyam (si penyembah mentari), dan sebagainya. Hal-hal tersebut seharusnya sudah diketahui seorang ayah ketika akan memberikan nama untuk anaknya. Di sinilah pentingnya belajar dan mencari tahu, terutama dalam hal agama.

Nama pemberian kita adalah hadiah terindah untuknya
Maka berikanlah yang terbaik untuk anak kita. Dekade ini nama-nama yang berkembang di Indonesia adalah nama-nama Arab yang sangat indah. Maka pikirkan juga bagaimana nanti masyarakat akan menyebutkannya. Jangan sampai karena perbedaan logat dan lidah, penyebutannya terlalu sulit sehingga berubah dari artinya, atau malah jadi olok-olokan.

Jangan ragu bertanya kepada yang tahu
Jangan sungkan bertanya kepada orang-orang yang mengerti, untuk memberi masukan bagi nama anak kita. Anak kami, Fatamadani adalah sumbangan dari mbah kakungnya, artinya kurang lebih pemuda masa kini. Anak yang ke dua, matsna adalah sumbangan dari mbah ibu-nya (ibu saya), artinya kurang lebih anak yang ke dua. Ketika henak menyatukan dengan nama pilihan kami, maka saya bertanya kepada bapak yang menguasai struktur bahasa Arab. Jadilah nama anak pertama Muhammad Fatamadani Assyaddad, dan nama anak ke dua Matsna Nailal Husna.

Bertanya kepada orang yang faham menjadi penting, agar kita tak salah memberikan nama, atau tak salah dalam menggabungkan nama

Cari banyak referensi
Sekarang sudah banyak dijual buku-buku tentang kumpulan nama dari berbagai bahasa. Di internet pun banyak yang menyediakan. Maka jangan malas untuk mencari berbagai referensi untuk menemukan nama yang pas bagi buah hati kita.

Diskusikan dengan pasangan
Jangan lupa untuk mendiskusikan pemberian nama anak kita kepada pasangan kita. Kalau nama itu mempunyai arti, maka ketika sama-sama mengetahui artinya, pasangan kita pun akan mendukung untuk mewujudkan doa dalam nama itu.

Intinya adalah, agar kita tidak sembarangan memberikan nama bagi anak kita. Mungkin ada nama yang terdengar keren dan bagus, tapi belum tentu cocok dipakai untuk anak kita. Dan alangkah baiknya kalau kita memberikan nama yang mengandung doa bagi anak kita, semoga dengan nama itu anak-anak kita menjadi seperti orang-orang yang kita cita-citakan. Dan yang pasti, semoga masing-masing kita memiliki anak yang salih-salihat.  Amin :)

keterangan gambar : diambil dari nama-bayi.org

14/07/11

Anak Anda Nakal? Jongkoklah!

Saya mungkin termasuk ayah yang tidak begitu sabar menghadapi anak. Semakin besar, keinginan si sulung semakin besar pula. 19 bulan umurnya sekarang, dan semakin hari semakin bertambah daftar keinginannya untuk dipenuhi. Masalahnya, dia sudah bisa mengungkapkan keinginannya sekaligus tak mudah dialihkan perhatiannya. Sekali menyebut keinginan, susah untuk membuatnya lupa atas keinginannya. Masalah ke dua, bahasa yang digunakan kadang bahasa yang hanya diketahui dirinya sendiri dan Tuhannya, dan keinginannya lebih sering tidak match dengan apa yang ingin kita lakukan. Misalkan, suatu ketika dia merengek-rengek bilang, “Koak, koak”. Ternyata yang diinginkannya adalah mencari kecoak, yang sebenarnya ketika dia sudah menemukan kecoaknya maka dia akan lari dan minta gendong. Atau dia bilang, “Meot, meot”, sambil ngaduk-aduk bantal. Apa yang dicari? Remot AC yang memang sering nyempil di bawah bantal. Kalau dia mengatakan, “Bio, bio”, maka itu berarti dia ingin melihat video yang sering kami rekam di HP. Dalam banyak kata sebenarnya dia sudah bisa menyebutkan dengan sangat jelas, tapi beberapa kata memang tak pernah jelas disebutkannya. “Copot”, misalnya, dia mengatakan dengan, "Otop”.

Sebenarnya ‘perbedaan bahasa’ itu tak masalah kalau dia bersedia menunjukkan apa yang sebenarnya diinginkan. Tapi ‘kan tak semua hal yang ia inginkan bisa ia tunjukkan dengan jari telunjuk dan langkah-langkah kecilnya. Di situlah kadang-kadang kami berdua menjadi sama-sama emosi. Fata emosi dan menangis karena keinginannya tak terpenuhi, saya emosi karena tak bisa memenuhi keinginannya. Ada sumbatan komunikasi yang menyebalkan di situ. Kalaupun saya mengerti apa yang diinginkannya, tak selalu saya bisa menurutinya. Kemarin, siang hari bolong dia minta jalan-jalan naik mobil. Harus naik mobil, tidak mau naik motor. Saya tak bisa menurutinya, dan jadilah dia menangis sesiangan.

Sebenarnya kalau Anda membaca sedikit cerita-cerita saya tadi, mungkin Anda berpikir tak seharusnya itu dianggap sebagai suatu yang menjengkelkan. Bukankah itu semua hal-hal yang lucu? Ya, memang lucu kalau kita membicarakannya dengan suasana hati yang nyaman seperti saat ini. Tapi sama sekali tak lucu kalau pikiran kita sedang bercabang ke mana-mana, atau hati kita sedang galau memikirkan pekerjaan-pekerjaan di luar rumah. Dengan suasana hati seperti itu kadang kerewelan anak memberikan 1001 alasan untuk memarahinya.

Tapi kalau kita pikir-pikir, ada gunanya gak sih memarahi bayi berumur 19 bulan? Pasti tak ada manfaatnya kecuali mungkin memberikan sedikit kepuasan bagi kita karena merasa berkuasa atas anak kita, meski pasti setelah itu diikuti dengan rasa penyesalan di hati kita. Tapi nyatanya kadang saya marah juga dengan tingkahnya si kecil. Ketika malam-malam menangis dan tak jelas keinginannya, ketika dia punya keinginan dan tak mau ditangguhkan untuk dituruti, atau ketika dia melakukan hal-hal yang meski sebenarnya tak salah, tapi membuat saya jengkel.

“Ruhiyah abi sedang jelek...”, begitu kata istri kalau melihat saya memarahi Fata yang sebenarnya belum tahu apa-apa. Dan memang sepertinya begitu. Kondisi psikis kita, kondisi hati kita, bahkan kondisi keimanan kita akan sangat berpengaruh terhadap cara pandang kita terhadap sesuatu. Ketika psikis kita sedang tidak fit, tentu tingkah anak dalam mengekspresikan kecerdasannya tidak terlihat sebagai sebuah kelucuan yang menyenangkan, tapi kadang menjadi sesuatu yang menjengkelkan. Maka berikanlah kondisi psikis, hati, dan keimanan kita yang terbaik untuk anak-anak kita. Tak perlu semuanya berlalu menjadi kenangan dulu, baru kita bisa merasakannya sebagai sesuatu yang manis dan menyenangkan.

KETIKA EMOSI TAK TERTAHANKAN

Kadang memang kita tak dapat menahan emosi kita pada anak yang rewel, yang susah menuruti keinginan kita, maupun yang tak kita mengerti keinginannya. Padahal, sampai umur tertentu, sepertinya tak ada manfaatnya memarahi anak. Maka, bagaimana kalau emosi kita sudah sampai ubun-ubun? Dua tips untuk Anda agar tidak jadi marah :)

Tarik nafas yang dalam
Ini tips yang diberikan salah saeorang trainer hypno parenting. Dan sepertinya memang agak susah untuk marah setelah kita menarik nafas yang dalam. Jadi ketika akan marah, silakan tarik nafas yang dalam dulu, baru marah :)

Anak Kita adalah Ciptaan Alloh
Ingatlah, bahwa sebenarnya anak kita adalah ciptaan dan titipan Alloh. Maka ketika si anak sedang bertingkah dengan lucu-lucunya atau menyebalkan-menyebalkannya, katakan, "Subhanalloh, ciptaan Alloh...". Anak nakal, atau anak banyak akal itu tergantung bagaimana kita melihatnya.

Duduk
Kata Nabi, “Kalau kalian marah, maka duduklah. Kalau tidak hilang juga, maka berbaringlah”. Kalau istri saya, jongkok dan melihat ekspresi lucu si kecil ketika sedang merengek-rengek minta sesuatu. Sepertinya juga susah untuk marah kalau posisi kita sedang jongkok. Kecuali anda suka marah-marah sambil jongkok, maka kalau marah sama anak Anda, jongkoklah!

Anda punya tips lain? Silakan dibagi di sini J

Keterangan gambar : fata sedang berusaha menyalakan mesin cuci untuk mandi 

01/07/11

Mengasuh Mental Anak Kita

Sepertinya suatu hal yang lumrah, kita berharap akan memiliki anak-anak yang sempurna. Hal yang wajar juga ketika kita menganggap bahwa anak-anak kita adalah anak-anak yang paling pandai dan paling cakep sedunia. Sayangnya, kadang kita tahu bahwa malaikat-malaikat kecil kita ternyata adalah anak-anak manusia biasa. Mereka makhluk-makhluk ajaib, tapi tentu saja jauh dari kesempurnaan.

Pernahkah kita merasa jengkel karena anak kita tidak mau bersalaman, tersenyum, atau menyapa teman-teman kita, padahal itu biasa ia lakukan ketika kita pulang ke rumah setelah bekerja? Atau pernahkah kita merasa marah karena anak Anda tak bisa menunjukkan kebolehannya di hadapan saudara dan teman-teman kita, padahl ketika di rumah polahnya selalu membuat gemas yang melihatnya? Kadang kita ingin memamerkan kehebatan anak kita di hadapan khalayak rami, tapi ternyata sang bintang yang dinantikan pertunjukannya lebih suka untuk bersembunyi dan enggan menuruti keinginan orangtuanya.

“Ini memang pemalu ni...”, kadang-kadang kita memberi alasan yang tak perlu kepada orang-orang yang kita temui. Atau kadang kita berujar, “Si Abang memang jago kandang. Beraninya cuma di rumah...”. Lain waktu, “Memang beda antara kakaknya dan adiknya. Adiknya lebih nakal”. Dan kalimat-kalimat lain yang sebenarnya tak memberikan manfaat apapun, kecuali mungkin memberikan sedikit rasa nyaman bagi kita karena kita merasa mampu menutupi kekurangan anak kita.

Tanpa sadar, kata para ahli psikologi dan perkembangan anak, ucapan-ucapan yang sering kita alamatkan kepada anak kita adalah ‘labelling’ bagi anak kita. Kita mengatakan bahwa anak kita nakal, maka itu sama dengan memberikan cap kepada anak kita bahwa ia nakal. Begitu pula ketika kita mengatakan predikat lain untuk anak-anak kita. Dan gawatnya lagi, menurut Dra. Destryna N. Sahari, MA, seorang psikolog dari RS. Mitra Keluarga Bekasi yang saya ambil dari Tabloid Nova, umumnya orang akan lebih cepat menyimpan hal jelek daripada yang baik. "Lihat saja, walaupun kita mendapat pujian puluhan kali, tapi lalu ada satu orang yang mengkritik kita, justru kritikan itulah yang akan disimpan lebih kuat dan lebih lama dalam pikiran kita dibanding puji-pujian tadi."

Setiap anak itu unik, maka pantangan selanjutnya adalah untuk tidak membanding-bandingkannya dengan siapapun. Sebagaimana kita yang tak suka dibanding-bandingkan, anakpun juga tak menyukainya. Terlebih jika anak punya kekurangan fisik, entah badannya terlalu kecil/gemuk dibanding anak-anak lain seusianya ataupun ada kecacatan anggota tubuh. Dengan adanya kekurangan ini saja sudah cukup membuat anak merasa berbeda dan kurang dibanding teman-temannya, apalagi jika kita pun kerap menekankan perbedaan tersebut.

Anak Orang Lain pun Anak Kita

Atau kadang kita menemui hal yang berkebalikan. Anak teman kita yang usianya sebaya dengan anak kita, ternyata perkembangannya di bawah anak kita. Maka akan lebih bijak kalau kita menahan diri untuk memamerkan kebolehan anak-anak kita. Tak perlu rasanya kita mengatakan, “Lho, kok belum bisa jalan. Adek fulan aja sudah bisa...”. Tidak ada manfaatnya, dan berpotensi untuk menyinggung perasaan teman kita maupun anaknya. Ingatlah bahwa kitapun bertanggungjawab atas perkembangan mental anak-anak di sekitar kita. Jangan mentang-mentang bukan anak kita, insting kita sebagai orangtua yang salih hilang begitu saja.

Pun ketika misalnya kita mendapati para ortu yang sedang membangga-banggakan anaknya. Saya pribadi lebih senang untuk ikut mengaminkan apa yang dibanggakannya. Lebih nyaman rasanya dengan menahan diri untuk tidak berusaha menyaingi kehebatan anaknya dengan menyebutkan segudang kelebihan anak kita yang tentu saja ada. Kecuali kalau ditanya, tentu saja tak masalah untuk menyebutkannya. Jangan sampai silaturahim kita jadi tidak enak suasananya karena obrolan kita berfokus pada usaha untuk memenangkan anak masing-masing.

Saya jadi teringat akan kisah Rosulullah SAW ketika suatu ketika beliau bertemu dengan seorang wanita yang menggendong anak kecil. Rosul waktu itu kemudian meminta si bayi dari ibunya kemudian menggendong dan menimang-nimangnya. Tiba-tiba, sang bayi mengompol. Tentu saja si ibu yang tahu bahwa orang yang menggendong anaknya adalah seorang nabi, seorang pemimpin besar, dan seorang yang sangat dihormati, merasa tak enak hati terhadap rosulullah. Ia kemudian membentak anaknya dan mengambilnya dari pangkuan Rosululloh dengan cara yang kasar.

“Wahai ibu”, kata Rosululloh, “Air kencing anakmu ini akan dengan mudah aku bersihkan dengan air. Tapi bentakanmu tadi, mungkin akan membekas selamanya dan berpengaruh buruk terhadap anakmu kelak.”.

Begitulah, hati-hati dengan ucapan yang kita lontarkan dan didengar oleh anak-anak di sekitar kita. Jangan sampai itu berpengaruh buruk terhadap perkembangannya kelak.  "Air kencing ini bisa dibersihkan, tapi hati anak yang terluka akan sulit diobati." 

*setelah melihat salah satu episode "desperate housewives" di starworld

Ads Inside Post