07/02/17

Agar Tidak Salah Lagi Setelah Tax Amnesty


Apa beda Bulan Maret 2017 dengan bulan-bulan Maret sebelumnya? Bulan Maret 2017 merupakan batas waktu penyampaian SPT Tahunan Orang Pribadi pertama setelah diberlakukan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak yang populer dengan sebutan “Tax Amnesty”. Biasanya orang berbondong-bondong melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan-nya pada Bulan Maret, sampai-sampai hampir seluruh Kantor Pelayanan Pajak penuh dengan Wajib Pajak dan server Direktorat Jenderal Pajak tak mampu melayani Wajib Pajak yang melaporkan SPT Tahunan secara online. Pertanyaan kita, apakah kualitas penyampaian SPT Tahunan tahun ini akan sama dengan tahun-tahun lalu, ataukah Direktorat Jenderal Pajak mampu memperoleh data yang lebih akurat dari SPT Wajib Pajak dan mampu meningkatkan penerimaan pajak melalui data yang diperoleh selama periode Tax Amnesty? Lebih jauh, apakah kesadaran Wajib Pajak dapat meningkat untuk melaporkan pajaknya secara benar pasca Tax Amnesty?
Gambar nyomot di https://id.techinasia.com/aturan-pajak-yang-harus-diketahui-founder-startup-indonesia
Dominasi Wajib Pajak Orang Pribadi
 
Berdasarkan data yang dirilis Direktorat Jenderal Pajak di http://www.pajak.go.id/statistik-amnesti terlihat bahwa Wajib Pajak Orang Pribadi mendominasi jumlah rupiah yang berhasil dihimpun Pemerintah melalui program Tax Amnesty. Sekitar 87,2% dari total 104 Trilyun uang tebusan dibayar oleh Wajib Pajak Orang Pribadi (data per 23 Januari 2017). Statistik yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Pajak tersebut memang tidak menyebutkan secara pasti jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi yang mengikuti Tax Amnesty. Akan tetapi dengan prosentase tersebut, dapat kita asumsikan bahwa jumlah peserta Tax Amnesty didominasi oleh Wajib Pajak Orang Pribadi.

Sebagian kalangan menilai bahwa jumlah tersebut masih sangat kecil dibandingkan dengan jumlah Wajib Pajak yang terdaftar. Namun sebenarnya, untuk mengukur respon masyarakat terhadap program Tax Amnesty tidak bisa hanya dilihat dari seberapa banyak Wajib Pajak yang mengikuti program Tax Amnesty dan membayar tebusan, akan tetapi juga harus dilihat pula jumlah Wajib Pajak yang tidak mengikuti Tax Amnesty, namun selama periode Tax Amnesty mereka berusaha membenahi kewajiban perpajakannya seperti melaporkan  Surat Pemberitahuan (SPT) yang belum mereka laporkan ataupun melakukan pembetulan SPT yang sudah mereka laporkan akan tetapi data yang disampaikan belum benar. Aksi melaporkan maupun membetulkan SPT yang dilakukan dalam periode Tax Amnesty tersebut seharusnya juga dapat disebut sebagai respon Wajib Pajak atas program Tax Amnesty.

Meskipun tentu saja berbeda antara Wajib Pajak yang mengikuti program Tax Amnesty dengan membayar sejumlah uang tebusan yang disetorkan kepada negara dengan mereka yang ‘sekedar’ membetulkan SPT Tahunannya. Mereka yang mengikuti program Tax Amnesty tentu saja sudah membantu pemasukan negara, dan akan mendapatkan pengampunan atas kewajiban perpajakan sampai dengan Tahun 2015 yang belum atau belum sepenuhnya diselesaikan oleh Wajib Pajak. Sedangkan mereka yang tidak mengikuti program Tax Amnesty -termasuk yang hanya melakukan pembetulan SPT- tidak akan mendapatkan pengampunan tersebut, sehingga ketika di kemudian hari ditemukan data baru dapat dikenakan ketentuan sesuai dengan perundangan yang berlaku.

Pasca Tax Amnesty


Perlu diperhatikan bahwa kewajiban perpajakan yang mendapat fasilitas pengampunan adalah kewajiban perpajakan sebelum Tahun 2015. Artinya, Wajib Pajak harus memperhatikan kewajiban perpajakan mereka untuk Tahun 2016 dan tahun-tahun berikutnya, termasuk kewajiban untuk menyampaikan SPT Tahunan. Sebagaimana kita tahu, SPT Tahunan paling lambat disampaikan oleh Wajib Pajak pada akhir bulan Maret tahun berikutnya untuk Wajib Pajak Orang Pribadi dan akhir bulan April tahun berikutnya untuk Wajib Pajak Badan.

Dengan banyaknya Wajib Pajak Orang Pribadi yang mengikuti program Tax Amnesty sesuai dengan data yang disebutkan di atas, maka bulan Maret 2017 seharusnya menjadi momen penting bagi peningkatan kepatuhan Wajib Pajak khususnya Wajib Pajak Orang Pribadi. Wajib Pajak yang telah mendapatkan pengampunan seharusnya tidak melakukan kesalahan yang sama, seperti lalai menyampaikan SPT Tahunan maupun menyampaikan SPT Tahunan dengan tidak benar,  sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Begitupun juga Wajib Pajak yang melakukan pembetulan SPT Tahunan.

Kelalaian penyampaian SPT Tahunan biasanya terjadi karena minimnya awareness Wajib Pajak meskipun sudah disosialisasikan secara massif. Kelalaian ini juga bisa terjadi ketika misalnya seorang karyawan merasa bahwa penyampaian SPT Tahunan merupakan kewajiban kantor atau perusahaannya. Padahal penyampaian SPT Tahunan adalah kewajiban masing-masing Wajib Pajak karena ia sendiri yang mengetahui harta dan kewajiban yang dimiliki, dan juga penghasilan lain selain dari gaji yang mungkin ada. Sedangkan ketidakbenaran data yang disampaikan dalam SPT biasanya disebabkan karena merasa aman dari pengawasan pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak, yang dianggap tidak memiliki data untuk membuktikan ketidakbenaran SPT yang disampaikan Wajib Pajak.

Setelah Wajib Pajak mengikuti Tax Amnesty atau membetulkan SPT Tahunan-nya sebagai respon atas Tax Amnesty, seharusnya kelalaian dan ketidakbenaran data itu tidak terulang lagi. Wajib Pajak menjadi sadar bahwa SPT Tahunan wajib dibuat sendiri olehnya dan disampaikan kepada Direktorat Jenderal Pajak. Selain itu, dengan data yang ditulis sendiri oleh Wajib Pajak yang mengikuti Tax Amnesty maupun yang membetulkan SPTnya, seharusnya tidak ada lagi perasaan aman ketika menyampaikan SPT yang tidak benar.

Lapor SPT, Jangan Salah Lagi


Memang, data yang disampaikan ketika Tax Amnesty adalah data berupa harta yang dimiliki oleh Wajib Pajak. Pun demikian dengan data yang disampaikan dalam SPT pembetulan oleh Wajib Pajak, kebanyakan juga membetulkan harta yang belum dicantumkan dalam SPT yang sudah disampaikan. Harta yang dimiliki seseorang tentu saja tidak dikenakan Pajak Penghasilan. Akan tetapi perlu diingat bahwa sangat terbuka kemungkinan atas harta yang dilaporkan tersebut, Wajib Pajak memperoleh tambahan kemampuan ekonomis yang seharusnya dikenakan Pajak Penghasilan. Contoh, seorang karyawan memiliki beberapa properti termasuk rumah tinggal, apartemen, dan tanah perkebunan. Selama ini, karyawan tersebut hanya melaporkan penghasilan dari gaji yang diterimanya secara rutin dari perusahaan. Padahal, atas apartemen dan tanah perkebunan tersebut, ia juga memperoleh penghasilan dari sewa maupun dari usaha lain. Nah, seharusnya penghasilan dari selain gaji yang diterima rutin oleh perusahaan (dan biasanya sudah dipotong pajaknya) tersebut juga dilaporkan dalam SPT Tahunannya.

Oleh karena itu, mari jadikan momen penyampaian SPT Tahunan 2016 yang akan berakhir pada Maret dan April 2017 nanti sebagai momentum peningkatan kepatuhan perpajakan kita.
Pertama, sampaikan SPT Tahunan sebelum jatuh tempo.
Kedua, masukkan semua aset ke dalam SPT, termasuk aset yang diikutkan Tax Amnesty
Ketiga, sampaikan SPT Tahunan dengan data yang sebenar-benarnya, termasuk penghasilan-penghasilan lain dari asset yang kita miliki.


Karena APBN Indonesia sebagian besar dibiayai oleh pajak, sehingga sukses tidaknya pembangunan negara kita bergantung pada benar tidaknya kita dalam memenuhi kewajiban perpajakan kita.Mau kan negara kita jadi makmur dan sejahtera?

10/01/17

Curug Putri: Air Terjun Ekstrim di Banten

Weekend kemarin ada jadwal untuk outing bersama beberapa kawan. Seperti biasa, ketika outing bersama teman atau kolega, saya akan meminta izin apakah memungkinkan membawa sebagian anak-anak saya. Kebiasaan itu saya lakukan agar keluarga tidak kehilangan hak-haknya, begitu juga saya bisa menjalankan kewajiban-kewajiban yang kadang harus mengorbankan waktu libur kami.

Setelah diskusi, ikutlah mas dan kakak. Destinasi utama adalah ke Pantai Carita dilanjut dengan air terjun di depan Pantai Carita. Perjalanan dari Jakarta memakan waktu kurang lebih 3 jam dengan kondisi lancar. Menyusuri pinggir Pantai Anyer, sampai di Carita Seapark, kami belok ke kiri. Jalanannya kecil, tepat di seberang Carita Seapark. Sangat kontras dengan pemandangan pantai, kami langsung disuguhi jalan yang menanjak dengan kanan kiri hutan. Kondisi jalan awalnya adalah beton, tapi kemudian ketemu dengan jalanan berbatu yang tidak rata. Beberapa kali terasa bagian bawah mobil mentok batu karena kurang hati-hati dalam memilih jalan. Kira-kira 10 menit perjalanan, kami sampai ke tempat parki mobil. Tidak begitu luas, tapi muat untuk sekitar 10 mobil. Penjaga parkir mengatakan bahwa kami harus berjalan 200 m untuk mencapai pos pertama.Bisa naik ojeg sebenarnya, tapi si kakak dengan mantap memilih jalan kaki. "Biar seru!", katanya.
Mas dan Kakak jalan kaki dari parkiran menuju pos pertama
Sesampainya di pos pertama, kami bertemu dengan petugas penjaga. Sempat diingatkan agar berhati-hati karena membawa anak kecil, mengingat medannya yang jalan setapak dengan jurang yang cukup dalam. Sempat merasa tidak enak mendapat peringatan seperti itu, tapi karena sudah sampai sana, bismillah semoga tidak apa-apa. Di pos pertama, ada beberapa penjual makanan. Kami memutuskan mengisi perut terlebih dahulu dengan sepiring mie instan. Harganya wajar. Rp. 10.000 dengan telur. 

Setelah cukup kenyang, kami mulai berjalan. Tak jauh dari warung, kami langsung bertemu dengan jalan setapak. Track-nya mirip dengan track ketika kita naik gunung. Setapak, melewati pohon-pohon yang tumbang, naik turun, sesekali melewati mata air yang jernih.
Tracking tersebut memakan waktu kurang lebih 1 jam, lalu kami sampai di sebuah Curug. Saya lupa namanya. Tapi kami justru sampai di atas curug tersebut. Baru kali ini saya menikmati curug justru dari atasnya. Biasanya kan dari bawahnya. Karena penasaran, kami coba untuk turun, berharap akan bisa bermain-main air terjun di bawah sana. Jalanannya curam dengan batu-batu besar. Tapi anak-anak bisa sampai bawah. Sesampai di bawah ternyata kami di posisi agak jauh dari air terjun, tidak punya bisa menikmati pemandangan air terjun karena posisinya menikung. Untuk benar-benar sampai di air terjun masih harus melewati sungai yang sayangnya cukup dalam. Jadilah dengan kecewa kami naik lagi.
Untuk mencapai air terjun harus melewati sungai yang sepertinya dalam itu

Beberapa guide menyarankan kami untuk melanjutkan perjalanan ke Curug Putri. 
"Hanya 300 meter sampai pos penjagaan pak, setelah itu lanjut menyusuri sungai", kata mereka berusaha meyakinkan kami. Anak-anak sebenarnya sudah merasa capek dan ingin bermain air di sungai saja. Tapi karena juga penasaran, saya coba bujuk untuk mau jalan sedikit lagi. 

Sampai di pos, ternyata sudah banyak sekali pengunjung di sana. Penjaga menjelaskan kepada kami untuk menitipkan semua barang yang tidak tahan air. 
"Bisa bawa kamera gak mas?"
"Nanti harus berenang, pak. Susah bawa kamera", jelas mereka
"Aman gak ni bawa bocah?"
"Aman pak. Kemarin ada yang lebih kecil, pak. Di sana banyak pemandu."

Kami membayar Rp. 15.000,00 per orang, menitipkan semua barang termasuk sepatu, lalu mulai menyusuri sungai. Tidak mudah karena banyak batu-batu baik besar maupun kecil. Tak berapa lama, kami langsung ketemu dengan dinding batu di kanan kiri sungai yang menjulang tinggi. Bertekstur halus dengan gurat-gurat alami akibat goresan air. Jarak antara dinding batu antara 5-2 meter, semakin dekat dengan curug, semakin sempit. Udara cukup dingin. Lalu kami sampai pada sungai yang cukup dalam. 3 meter berdasar informasi dari guide. Kami diberi pelampung, lalu berenang dengan bantuan sebuah tali yang diikat dan dijaga oleh petugas. Anak-anak? Mereka naik ke punggung guide yang bolak-balik berenang untuk membantu yang kesulitan. 
Anak-anak memakai pelampung, terlihat dinding batu dengan jarak cukup sempit
Setelah berenang, memanjat sebuah gerojogan kecil, lalu berenang lagi, akhirnya sampai di destinasi yang disebut Curug Putri itu. Arusnya deras, udaranya dingin, karena baju juga tidak mungkin tidak basah kuyup. dan ternyata curugnya hanya sebuah air terjun pendek. Lebih mirip gerojogan di sungai-sungai kecil. Pemandangan bagusnya ada pada dinding batu yang mengapit sungai tersebut. 

Tak berapa lama, kami memutuskan untuk kembali ke pos. Banyak pengunjung, jadinya tidak nyaman untuk berlama-lama di sana, selain juga sudah mulai kedinginan. Ketika balik harus berenang lagi, menyusuri sungai lagi. Si kakak sudah mulai rewel tidak mau jalan. Karena kasihan, saya gendong sambil jalan menyusuri sungai. Karena batu-batuannya cukup banyak, kami malah tergelincir dan kakak terbanting ke sungai. Alhamdulillah ada teman yang sigap menolong dan ganti menggendong si kakak. Tak berapa lama, teman saya juga jatuh. Jadilah si kakak jatuh dua kali. 
mengembalikan mood kakak setelah berkali-kali jatuh, dengan segelas minuman hangat
Setelah semuanya pulih, semangat pulih, fisik juga pulih setelah beristirahat sebentar, kami langsung berjalan menuju pos awal. 1,5 jam perjalanan lagi. Tentu butuh ekstra kata-kata motivasi untuk meyakinkan bahwa anak-anak masih kuat berjalan. Motivasi mereka, sampai mobil, ketemu AC, lalu bermain di pantai.
Jalan setapak yang langsung berbatasan dengan jurang
Tidak sabar sampai ke parkiran mobil meski sebenarnya sudah sangat capek
Setelah berjalan hampir 1,5 jam, sampai juga di tempat mobil di parkir. Langsung keluar kawasan hutan, bertemu dengan pantai dan mencari spot pantai yang tidak terlalu ramai untuk disinggahi. 
Dikejar ombak
Dan selesailah petualangan hari itu. Sayang, jalan pulangnya macet karena bersamaan dengan bubarnya orang-orang yang menikmati sunset. Mampir ke warung padang untuk mengisi perut yang keroncongan, lalu pulanglah kami dengan dengkuran anak-anak di jok belakang mobil.



26/09/16

Belajar Sepatu Roda Untuk Anak

Lama sekali blog ini tak pernah tertengok sampai berdebu. Musim Pilkada, semua orang membicarakan calon kepala daerah. Tapi bagaimana kalau kita bahas musim yang lain? Musim sepatu roda.

Jadi, entah bagaimana tiba-tiba semua anak-anak sekarang memiliki in line skate alias sepatu roda dengan warna-warna dan corak yang menggoda hati. Hatinya anak-anak tentu saja. Di kampung saya di selatan Jakarta, di jalan sempitnya yang beraspal kasar pun, sore-sore sering terlihat anak-anak berjalan tertatih memakai sepatu roda mereka. Saling berpegangan agar tidak jatuh.

Nah, kebetulan si drama queen "kakak", gadis kami di rumah hobi sekali bermain sepatu roda. Meski tidak bisa dibilang jago, tapi ya lumayan lah. Dan dia main sebelum sepatu roda ini tiba-tiba jadi musim seperti sekarang ini. Maka ketika di taman, di kampus STAN, di pusat perbelanjaan yang mengizinkan pengunjung memakai sepatu roda lalu dia enjoy ke sana kemari dengan in line skate nya dan beberapa orang bertanya bagaimana cara biar bisa sementara anaknya belum bisa, itu ya karena latihannya dah lama. dah berbulan-bulan yang lalu. Jatoh-jatohnya, lebamnya udah gak keitung sampai akhirnya bisa meluncur seperti sekarang. Sementara anak-anak yang lain, karena baru musim, baru saja beli dan baru saja belajar. Jadi si kakak suka keliatan jago dibandingkan yang lain, padahal ya karena lebih dulu latihan dibanding yang lain.

Sekarang, yuk kita bahas tentang sepatu roda untuk anak. Dulu, kami beli sepatu roda niatnya untuk si Mas, agar lebih punya sarana untuk bergerak dan menghabiskan energinya. Awalnya semangat banget, tapi sekali dua kali jatoh terus udahan. Cuma sesekali saja mau main lagi. Sementara si kakak, jatoh berkali-kali tetap penasaran gimana caranya bisa main sepatu roda itu. Sepatu roda pertama (karena sekarang sudah ada yang kedua) yang kami beli untuk mereka, entah merknya apa. Waktu itu karena hanya iseng, yang penting murah, rodanya bulat dan bisa menggelinding. Belakangan baru nyadar, ternyata milih sepatu roda itu tidak sembarangan. Makanya, mumpung masih musim, siapa tahu ada yang ingin anaknya bermain sepatu roda daripada bermain gadget di kamar.


Memilih Sepatu Roda
Bagaimana cara memilih sepatu roda untuk anak? Sekarang banyak sekali produsen sepatu roda, mulai harga 100 ribuan (mendekati 200 ribu sih) sampai yang harganya jutaan. Bedanya apa? Merknya beda, kualitasnya juga beda lah. Karena kita membicarakan sepatu roda untuk anak, kadang sayang beli yang mahal-mahal tapi anaknya bosenan atau tidak serius mau belajar. Tapi beli yang murah ternyata (seperti yang saya rasakan) juga sayang juga karena kualitasnya yang tidak bagus. Intinya, karena produsen in line skate sekarang mirip-mirip barangnya, pilihlah yang rodanya dari karet. Karena ada sepatu roda yang rodanya dari PVC alias plastik. Bunyinya "cethok-cethok" kalau buat jalan. Sepatu roda yang bannya dari karet membuat anak lebih mudah belajar karena lebih mudah meluncur sehingga membutuhkan tenaga yang lebih sedikit. Selain itu, ukurannya juga harus diperhatikan. Hampir semua model in line skate sekarang bisa di-adjust ukurannya. Misal S untuk ukuran sepatu 29-34 (beda-beda setiap jenisnya). Yang pasti jangan beli sepatu yang kekecilan, tapi juga jangan yang kegedean banget. Gak enak lah pastinya kalau kegedean. Walaupun sebenarnya si kakak belajar dengan sepatu yang kegedean dan bannya dari PVC. Ya bisa-bisa aja sih. Tapi akhirnya ya kami harus keluar uang lagi untuk beli sepatu yang lebih nyaman karena sering banget mainnya. Yang foto warna biru putih itu sepatu roda yang buat belajar. Foto yang bawah, sepatu roda baru yang harganya dua kali lipat, wkwkwkwk.

Tempat Belajar

Kalau udah beli sepatunya, yang jadi tantangan kita sekarang adalah di mana bisa bermain sepatu roda. Di jalan? Di mall? Di rumah? Yang pasti tidak semua mall mengizinkan pengunjungnya untuk memakai sepatur roda. Apalagi yang baru belajar. Kalau di jalan terlalu berbahaya bisa ketabrak kendaraan. Di rumah? Si kakak di dalam rumah juga pakai sepatu roda sih. Tapi ya hanya meluncur 3 4 meter terus nabrak tembok. Salah satu tempat yang direkomendasikan untuk belajar adalah di lapangan basket. Tentu kalau pas gak dipakai. Atau lapangan yang sejenis dengan itu lah. Yang diplester halus dan cukup luas tempatnya. Baru nanti kalau sudah bisa, bisa bermain di tempat lain.

Bagaimana Mengajari Anak Bermain Sepatu Roda?

Yang harus diingat adalah, jangan sampai justru orang tuanya yang berambisi anaknya bisa bermain sepatu roda. Karena liat anak tetangga udah bisa, misalnya. Karena tidak semua anak akan nyaman bermain sepatu roda sebagaimana tidak semua orang tua mau disuruh belajar nyetir mobil. Kalau anaknya memang mau, ya baru dibelikan sepatu roda dan diajari. Ditemani belajarnya jangan disuruh belajar sendiri.

Keterampilan mendasar bermain sepatu roda adalah berdiri dengan sepatu roda. Maka pertama kali, ajaklah anak di tempat yang berumput, lalu disuruh berdiri. Berdiri saja, belajar jaga keseimbangan. Setelah itu baru coba berdiri di lapangan basket tadi. Kalau sudah nyaman, coba minta untuk berjalan seperti biasa. Biarkan berjalan sendiri, tanpa dipegangi. Saya sampai sekarang tidak bisa bermain sepatu roda, tapi karena anak-anak ingin belajar, maka saya ajari mereka. Lebih tepatnya saya temani mereka belajar. Dan inti dari bermain sepatu roda kan meluncur. Maka berjalan saja sampai nanti bisa meluncur. Semakin banyak latihan maka akan semakin terbiasa dan semakin ringan untuk meluncur. Tips sederhana agar tidak jatuh ke belakang, minta si anak untuk memegang lutut. Lututnya sendiri, bukan lutut bapaknya. Karena yang paling sakit saat jatuh dari sepatu roda adalah jatuh ke belakang, karena sampai sekarang cuma nemu protektor lutut, siku dan tangan dan belum nemu tempat yang jual protektor pantat.

Nah, setelah bisa meluncur dan gak jatoh, baru nanti mikir bagaimana cara ngerem, cara belok, dan sebagainya.

Masih bingung? Search di youtube bagaimana cara belajar sepatu roda. Bejibun, dari yang ngajarin beneran sampai yang cuma aplot video anaknya belajar sepatu roda yang juga belum bisa. Selamat mengajari anak-anak bersepatu roda!

21/12/15

Mencari Alternatif Wisata Alam yang Sejuk: De Ranch, Farm House, dan Tour Lembang - Subang

Sudah mafhum bagi para pekerja kantoran di Jakarta, bahwa macet, deadline, lembur, polusi, menjadi hal yang harus dihadapi setiap hari. Makanya setiap libur tiba, rasanya ingin menikmati kualitas hidup yang lebih baik. Memiliki waktu istirahat, menikmati udara sejuk, kalaupun jalan-jalan, inginnya gak nemu gedung dan suasana kota lagi. Itu saya banget, ding. Nyari jajanan, sukanya jajanan tradisional, jalan-jalan sukanya ke nuansa alam. Sayangnya, tempat wisata di seputaran Jakarta yang murah meriah adalah mall. Tempat belanja itu sekarang juga jadi tempat wisata. Dan saya, termasuk yang gak suka jalan-jalan ke mall. Tidak anti mall, tapi tidak suka refreshing di mall.

Sabtu-Minggu kemarin, karena Mas dan Kakak liburan ke tempat Simbahnya di Magelang sono, di rumah tinggal bertiga sama si Adik. Lalu muncul ide untuk jalan-jalan. Mencari tempat yang dingin, menikmati hujan, dan kabut yang muncul di pagi hari. Daerah Puncak terlalu mainstream untuk disinggahi, selain karena belum nemu hotel yang murah dan bagus. Nemu yang murah, gak bagus. Nemu yang bagus, gak murah, hahaha. Kami tipe orang yang lebih suka nginep di rumah daripada nginep di hotel tapi gak bisa mengalahkan nyamannya kamar rumah. Sombong.

Lalu destinasi berubah ke Bandung. Kota Bandung tentu saja belum cukup dingin seperti yang diharapkan. Lalu mencoba nyari penginapan di Lembang. Hasilnya sama. Tidak nemu yang murah dan Bagus. Akhirnya memutuskan untuk booking hotel di Kota Bandung. Cari yang minimalis aja, asalkan reviewnya bagus dan sarapannya enak.

Hari Sabtu cuss ke Bandung. Langsung menuju hotel, karena sampai Bandung juga sudah jam 2 lebih. Keluar Pasteur baru ingat kalau Pasteur ada aturan 4 in 1. Untung saja 4 in 1 cuma sampai jam 13.00, dan kami lewat Pasteur sudah jam 13 lebih. Setelah check in di hotel, istirahat sejenak, lalu sorenya menikmati kota Bandung yang semakin tertata. Harusnya banyak taman yang bisa dikunjungi, tapi sore itu kami hanya jalan kaki menyusuri Asia Afrika, dan Jalan Braga saja. Jalan gitu aja, gak beli apa-apa. Eh, beli cimol ding. Mobil diparkir di Gedung BRI di seberang alun-alun Bandung yang terkenal karena digelar karpet rumput sintesis itu. Ini salah satu tips dari sahabat kami, kalau ke alun-alun, mobilnya parkir di BRI saja, daripada bingung nyari parkir. Bayar 10 ribu ke satpam, bebas parkir sampai berapapun lamanya.
Karena memang niat jalan kaki, sudah sedia stroller
Jalan kaki sampai Maghrib, lalu cari makan. Si Umi ngidam Bakso Boedjangan yang katanya enak dan legendaris itu.
foto diambil dari http://eatinguntildiee.blogspot.co.id/2015/07/ngebujang-bareng-bakso-boedjangan-ahey.html
Baksonya emang maknyoss. Meski buat saya sebenarnya kurang nyoss karena kuahnya tidak sepanas seharusnya. Si Adik aja sampai minta nambah, meski porsi ke dua gak habis juga dimakannya.

Besok paginya, setelah sarapan, baru deh wisata sebenarnya dimulai. Berangkat ke Lembang langsung menuju De Ranch. Kami sebenarnya bukan orang yang hafal jalanan Bandung. Ke mana-mana mengandalkan aplikasi Waze yang menunjukkan jalan ke manapun dimaui. Maka ke De Ranch pun dipandu oleh mas-mas Waze. Belok kanan, belok kiri. Kita mah nurut aja. Dan nyampe.


Nyampe sana jam 8 kurang dikit. Sudah lumayan ramai pengunjungnya. Bayar 10rb per orang, dapat welcome drink susu dingin aneka rasa. Sayangnya, sampai di dalam, pengelolanya yang malah belum siap. Tiket wahananya baru dijual jam 9.00. Kuda poninya belum pada datang. Jadi De ranch itu semacam arena Cow Boy, wisata berkuda, tapi tidak semua kudanya dimiliki oleh De Ranc. Sebagian besar dimiliki oleh penduduk sekitar. Dan mereka datangnya siang. Akhirnya sambil nunggu si kuda datang, karena si Adik pengen banget naik kuda, beli kopi dan main beberapa permainan yang disediakan gratis, seperti ayunan, jungkat jungkit, prosotan, dan sebagainya. Emaknya, ngopi di kedai kopi di dalam De Ranch.

Begitu tiket dibuka, antrinya sudah na'udzubillah. Yang ngantri kuda poni sudah bejibun. Akhirnya beli tiket flying fox dan delman. Flying fox karena memang si Adik hobi naik flying fox dan dari awal sudah merengek mau naik flying fox, delman karena kudanya ngantri. Yang penting kuda, dan malah bisa naik bertiga, lebih irit, hehehe.

sambil nungguin, main jungkat-jungkit

Adik naik flying fox
Setelah puas -sebenarnya belum puas sih- di De Ranch, tergoda oleh publikasi di internet tentang FarmHouse Lembang, akhirnya biar kekinian, datang ke sana. Ternyata yang penasaran tidak cuma kami. Dua kilo sebelum Farm House, sudah macet panjang mengantri mobil mau ke sana. Tapi untungnya masih dapat parkir juga. Per tiket 20ribu, tapi dapat voucher yang dapat ditukar dengan minuman dan makanan yang dijual di dalam.

Tiketnya bisa ditukar dengan makanan dan minuman
Karena sudah eneg dengan susu, akhirnya ditukar dengan mixed juice, dengan nambah 5 ribu dan dua tiket lainnya ditukar sosis bakar dengan nambah 5 ribu dapat 3 sosis.

Tempat ini, konon tempat yang instagramable. Berpotensi untuk menghasilkan gambar yang sangat bagus, meski orangnya biasa-biasa saja. Tapi karena pengunjung yang datang kayak cendol, gimana mau dapet gambar bagus?
ini di kanan kirinya sebenarnya penuh orang yang semua berusaha untuk foto, selfie, dan mendapatkan tempat paling bagus
Banyak yang ke sini membawa anak-anak. Termasuk kami. Tapi sepertinya kurang begitu cocok buat anak-anak. Bahkan nama FarmHouse pun mungkin juga tidak terlalu mencerminkan. Tempat ini lebih pada taman dan resto. Tamannya terkelola dan terdesain sangat apik. Cocok buat foto-foto, kalau tempatnya pas sepi. Sayangnya musim liburan sama sekali tidak sepi. Tidak ada hiburan buat anak-anak kecuali susu gratis yang dituker tiket masuk itu, atau sosis bakarnya. Selebihnya, ini lebih cocok untuk pasangan yang ingin pacaran, atau pre wedding, atau mungkin datang pagi-pagi berburu foto bagus untuk diaplot di Instagram.


Tidak lama di Farm House, lalu memutuskan untuk pulang, tidak lupa membeli tahu susu khas Lembang untuk oleh-oleh. Jadi jalan-jalannya gitu doang? Tidak. Untuk jalan pulang, saya memang merencanakan lewat Cipali. Balik lagi ke arah Lembang, ambil jalan menuju Subang, menyusuri indahnya kebun teh di Ciater, sampai akhirnya ke Cipali dan pulang ke Bintaro. 

Kalau biasanya dari Lembang, Bandung dan sekitarnya itu untuk menuju ke Jakarta lewat Tol Cipularang, kami memutuskan untuk memutar, menyusuri Jalan Raya Lembang-Subang. Bukan jalan-jalan namanya kalau kita hanya melihat suasana toll saja sepanjang perjalanan. Di Jalan Raya Lembang-Subang, akan bertemu dengan sejuknya hutan Cikole, lalu bertemu dengan belasan kilometer hamparan kebun teh yang hijau dan rapi. Mantap!

Suasana seperti ini yang dicari

Kebun Teh sepanjang perjalanan
Seharusnya melalui jalan ini, kita bisa juga mampir di Tangkuban Perahu. Tapi karena kemarin hujan, maka malas untuk belok ke Tangkuban Perahu. Nanti saja kalau full team, mengajak Mas dan Kakak untuk ke sana. Sayang, hujan sepanjang jalan, meski sempat berhenti juga hujannya, tapi jadi malas foto-foto di kebun teh. Si Adik juga bobok di jalan.

Dan akhirnya, menyusuri Lembang-Ciater-Subang sampai Cipali itu sangat layak untuk dicoba kalau bosan dengan jalanan Puncak yang macet kalau liburan. Jalannya satu lajur dengan kondisi mulus sekali. Diperlukan kondisi kendaraan yang fit apabila Anda ingin mencoba rute ini. Tidak perlu tergesa untuk segera sampai, karena jalanan berkelok-kelok, tidak aman untuk menyalip. Mending nikmati saja pemandangan sepanjang perjalanan, atau berhenti sejenak makan jagung bakar yang dijajakan di sepanjang jalan. Liburan kemarin, memang capek seperti perjalanan luar kota lainnya, tapi puas dan menyegarkan, melihat suasana hijau dan sebagai penikmat hujan, tentu saja menikmati hujan deras di beberapa tempat sepanjang perjalanan. 

Ads Inside Post