17/04/12

Menyikapi Kehamilan Tak Direncanakan


Sumber : http://wonderful-family.web.id

Saya termasuk yang percaya bahwa terdapat hubungan yang sangat erat antara emosi dan psikologis ibu hamil dengan perkembangan fisik dan emosi janin yang dikandungnya

Meski banyak ahli membantah hipotesis yang menyatakan bahwa kondisi emosi dan sifat seorang ibu akan mempengaruhi secara langsung kondisi psikologis bayi yang dikandungnya, saya tetap percaya dengan hubungan emosi dan psikologis tersebut. Kepercayaan itu bukan dalam konteks bahwa seorang ibu pendengki dan pemarah semasa hamil, pasti akan melahirkan seorang anak yang juga pendengki dan pemarah. Kepercayaan saya lebih kepada konteks bahwa apabila seorang ibu nyaman dan bahagia ketika mengandung janinnya, insya Alloh anaknya kelak akan menjadi anak yang sehat dan bahagia pula. Kausalitas itu setidaknya dapat dijelaskan secara ilmiah bahwa antara ibu dan janinnya dihubungkan dengan tali pusat tak berindera yang bertugas untuk menyalurkan darah dan saripati makanan. Ketika kondisi psikis seorang ibu tidak nyaman, biasanya akan meyebabkan turunnya nafsu makan, gangguan pencernaan, sembelit, dan lain sebagainya. Efek-efek kegelisahan tersebut tentu saja mempengaruhi kemampuan ibu untuk menyuplai zat-zat yang dibutuhkan untuk perkembangan janin yang dikandungnya, yang menyebabkan pertumbuhan fisik dan psikis janin akan terganggu. Seorang ahli kesehatan, Dr. Jalali (yang bukunya tak saya temukan jadi tak bisa menyebutkan referensinya), mengatakan,  “Bahwa kegelisahan berlebihan yang dialami ibu hamil dan kejadian tak menyenangkan di lingkungannya akan berbahaya bagi perkembangan dan watak anak. Kondisi-kondisi semacam ini akan menciptakan masalah dan menumbuhkan kelenjar-kelenjar yang tak diinginkan. Akibat lainnya, sistem pencernaan tak akan mampu berfungsi normal. Mungkin itulah alasan mengapa beberapa anak mengidap kegelisahan. Kondisi ini boleh jadi pula menjadi penyebab keguguran.”

Itulah kenapa seorang suami dan lingkungan sekitar wajib untuk membuat ibu hamil merasa nyaman dalam kehamilannya. Mungkin itu pula alasan kenapa ibu hamil yang ngidam (meski gak ilmiah) harus diikuti kemauannya. Bukan biar anaknya gak ngiler waktu lahir, tapi semata agar si ibu merasa nyaman dan mendapat dukungan dari suami dan keluarganya.

Menyambut Anak yang “Tak Direncanakan”

Hamil yang tak direncanakan bisa diartikan dengan kehamilan yang disebabkan pemuda dan pemudi yang pacaran dan karena tidak berhati-hati akhirnya hamil, atau kehamilan dari suami istri yang sebenarnya tidak ingin hamil saat itu tetapi Tuhan memberikan keputusan yang lain. Keengganan pasutri untuk memiliki anak pada saat tertentu itu bisa jadi karena ingin berkarir dulu, karena suatu penyakit, karena anaknya masih kecil-kecil, atau pertimbangan-pertimbangan lain. Ketika googling mengenai “hamil yang tak direncanakan”, maka yang akan muncul di halaman pertama adalah efek negatif dari anak yang lahir dari kehamilan yang tak direncanakan. Kemampuan kognitif yang terganggu, perkembangan bicara yang lamban, dan efek-efek negatif lain. Senada dengan google, rasanya masyarakat juga memberikan penilaian tak sedap terhadap pasutri yang –agar konsisten istilahnya- “hamil tak direncanakan”, terutama yang anaknya masih kecil-kecil atau yang sudah berumur tapi masih hamil juga. Di banyak website yang membahas tentang kehamilan yang tak direncanakan ini umumnya hanya membahas efek negatif terhadap janin seperti yang saya sebutkan di atas. Hampir tidak ada yang membahas penyebab hal tersebut, terlebih bagaimana cara menanggulanginya. Bagian awal tulisan ini, sebenarnya mencoba untuk sedikit menjelaskan -meski dengan berjuta keterbatasan- kenapa kehamilan yang tak direncanakan dapat menyebabkan kemampuan kognitif anak yang terganggu, kemampuan bicara lebih lamban, dan lain sebagainya.

Pertama, idealnya, persiapan sebuah kehamilan itu dimulai beberapa bulan sebelumnya dengan mengkonsumsi berbagai nutrisi yanga kan dibutuhkan janin, semisal asam folat, dan lain sebagainya. Tentu saja seseorang yang hamil tanpa sebelumnya merencanakan, bisa jadi tak mempersiapkan secara khusus hal tersebut. Meski sebenarnya asam folat dan nutrisi lain itu terdapat dalam makanan sehari-hari kita. Daging, ikan, hati adalah makanan-makanan yang banyak mengandung asam folat. Jadi, asal si ibu sehat dan gizinya tercukupi, hal ini relatif tidak perlu dikhawatirkan berlebihan.
Kedua, biasanya pasangan yang mendapati kehamilan yang tak direncanakan akan shock dan merasa tak siap. Hal tersebut wajar, karena akan banyak konsekuensi yang akan mengikuti setiap kehamilan. Tapi perasaan shock, perasaan tak siap, bahkan perasaan bersalah terhadap anak-anaknya yang sudah lahir terlebih dahulu, tentu akan kontraproduktif terhadap perkembangan janin. Berlama-lama berkutat dalam perasaan itu hanya akan membuat ibu stress, merasa bahwa janin yang ada dalam perut adalah “perusak suasana”, dan bahkan keengganan untuk merawat kehamilannya. Hal inilah yang berbahaya, karena bisa mengakibatkan perkembangan janin yang tak normal, atau lahir dengan kondisi-kondisi tertentu. Kalau sudah begitu, perasaan shock, tak suka, merasa bersalah dan lain sebagainya menjadi suatu hal yang akan ditanggung selamanya oleh si orang tua.
Ketiga, pandangan yang beragam dari masyarakat sedikit banyak mempengaruhi perkembangan janin juga. Perasaan wanita itu defaultnya sudah sangat halus, dan perasaan wanita hamil itu akan menjadi jauh lebih sensitif berkali lipat. Ekspresi dan perkataan yang tak selalu menyenangkan dari keluarga besar dan lingkungan sekitar, turut berperan dalam perkembangan janin. Biasanya tanggapan yang muncul dari orang-orang itu, “Kasihan kakaknya, masih kecil”, atau “Gimana nanti mau dikasih makan apa?”, “Duh... kasihan ya?” dan tanggapan-tanggapan lain yang sebenarnya dimaksudkan untuk empati tapi nylekit di hati. Salah satu kawan kami ketika hamil ketiga dengan jarak yang relatif dekat bahkan pernah mendapat sambutan yang tak terduga, “Ih... mbak kayak kelinci deh, hamil mulu”. Maksudnya bercanda, tapi tentu tidak pas.

Persiapan Anak Ketiga Kami

Anak kami yang pertama, Mas Fata, saat ini berumur 28 bulan, sedang anak ke dua, Dek Husna, berumur 15 bulan. Beberapa saat yang lalu, dua dari tiga test pack yang dibeli istri menunjukkan strip dua (horee...). Sebenarnya, strip dua itu tak kami rencanakan sebelumnya. Kami memang tak berencana membatasi anggota keluarga kami hanya 4 orang saja, tapi sebelumnya kami berpikir, nanti dulu lah, ingin sejenak istirahat. Karenanya, strip dua itu sejenak membuat kami terkejut. Beberapa saat sempat shock, merasa bersalah sama Fata dan Husna, dan beberapa perasaan lain. Tapi segera tersadar, bahwa di luaran sana berapa banyak pasangan yang merindukan buah hati tapi belum terpenuhi; berapa banyak di luaran sana yang secara ekonomi tidak lebih beruntung dari kami tapi tetap survive membesarkan banyak anak-anaknya dan tentu saja dilarang untuk takut Alloh tidak akan memberikan rizki untuknya; betapa embrio ini adalah amanah yang Alloh berikan untuk kami, dan hanya ada satu pilihan bagi kami untuknya : memberikan yang terbaik dan bersiap menyambutnya lahir dan menjadi bagian dari keluarga kami. Maka shock kami berubah menjadi rasa bahagia dan semangat untuk menyambut kelahirannya. Saya bahkan sudah mengagendakan untuk mencoba “Underwater Photography” ketika dia sudah lahir nanti. Istri sudah excited milih baju-baju hamil untuk ke kantor (itu mah karena pengen beli baju ^^), tak lupa pula menganalisa kekurangan-kekurangan kami dalam merawat Fata dan Husna dan dijadikan pelajaran agar dapat memberikan yang lebih baik bagi dedek nanti. Fata sudah dikabari bahwa ada calon adik lagi di perut uminya, Husna juga sudah mulai berubah panggilan dari “Dedek” menjadi “Kakak Husna”. Kami semua, termasuk khadimat di rumah, menjadi bersemangat menyambut kehadirannya, meski insya Alloh masih 8 bulan lagi.

Kami juga sudah bersiap menghadapi tanggapan negatif dari kerabat dan lingkungan sekitar, prediksi berdasarkan pengalaman teman-teman yang lain. Seperti ketika dokter kandungan yang kami datangi (baru sekali periksa ke dokter ini) bersikap tak simpatik ketika mengetahui bahwa Husna baru berumur 15 bulan, kami berdua cuma cengengesan sambil berbisik, “Besok gak usah ke sini lagi, daripada dapat aura negatif :’)”.

Embrio itu insya Alloh akan tumbuh menjadi seorang anak yang juga akan tumbuh menjadi bagian peradaban di dunia ini. Tanggungjawab kami terhadap anak tentu tak hanya dimulai saat itu lahir, tapi dari sekarang, bahkan sebelumnya. Maka tekad kami untuk tak membeda-bedakannya dengan kakak-kakaknya, memberikan yang terbaik untuknya, dan memantaskan diri agar mampu mengemban amanah maha besar dari Alloh ‘Azza Wa Jalla. Tentu tak berlebihan kalau kami meminta untuk didoakan, dan karena perasaan ibu hamil itu berkali lipat lebih sensitif, akan sangat menyenangkan untuk menahan perkataan yang sekiranya akan melemahkan semangat kami untuk merawat dan membesarkannya. Kalaupun enggan untuk mendukung, setidaknya jangan melemahkan :’).

10 komentar:

  1. Bisa ya pak? Anak ke 1 dan 2 asi ekslusif?

    BalasHapus
  2. saya 2 tahun sekali melahirkan. Ketika hamil lgsg sapih. Krn anaknya jg gak suka lg. Gak enak katanya.

    BalasHapus
  3. Terimakasih atas sharingnya. Kondisinya sama dgn saya saat ini. Anak 1 (34 m) anak kedua (19 m) dan skg sedang hamil lagi anak ketiga 5w. Anak kedua dan ketiga ini tidak direncanakan. Saya dan suami jg awalnya shock tetapi utk ketidak rencanaan yg ketiga ini sgra bisa kmi atasi dgn ihklas tdk spt kehamilan kedua yg memang benar2 menata hati dan mentalnya agak lama, karna sy jg harus berhenti bekerja. Untuk saat ini kami memutuskan tdk mengabarkan khmilan pd orang2 yg kira2 hanya akan mendatangkan komentar negatif. Jadi kmi hanya akan mengabarkan pd mereka yg kira2 support. Terimakasih

    BalasHapus
  4. Sama says jg,ank saya umur 9bln skrg,skrg sy hamil,,saya sedih awalny krn ank saya yg pertama hipospadia,,saya tkut bingung bgmn jk kelak ank sy op tp saya hrs mngurus ank kedua,,smg sy mampu melewati ini semua,,smg op ank saya yg pertama lancar n ank kdua says lhir normal,sehat sempurna n sm2 kmi cintai,,aminn smg Allah mngabulkan doa2 kami ��

    BalasHapus
  5. Memang harus ikhlas kalau seperti itu. Tp untuk bisa mengajak suami untuk ikhlas gmn y? Masalahnya masih banyak PR yg harus segera di selesaikan atau di penuhi
    Mungkin Bapak juga kenal suami sy yang kerja di DJP pusat.

    BalasHapus
  6. Saya pun skrg msi hrap" cemas utk melakukan test,berharap kabar baik yg saya dan suami trima,karena anak pertama saya juga bru 18bln...
    Smga amanah yg tlah d berikan bsa slalu kita jga tnpa hrus mendengarkan pha kta orang...

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Kalo saya istri belum siap menerima.. Bagaiamana ya? Apa yg harus saya lakukan?? Istriku shok gk mau dg kehamilan keduanya..dy belum siap berkutat lgi dg kehamilan apalagi operasi sc.. Anak pertma mash 10M, sekrg hamil lagi. Saya yg salah gak mau diajak KB. Krena menurut Saya KB gk KB kalo memang takdir diberi anak ya tetap jadi.. Astagforullah..

    BalasHapus
  9. Bismillaah..alhamdulilah. sy sdikit bs bc opini dri buibu ini sedikit buat hati agak tenang..saat ini baru test pack hasilny masih samaarr krena test nya mlm..garis kdua itu msh samaarr sekali..
    Masyaallah hati lihat ada garis samar dua ini pengeeenn nngis(pdhl sdh berlinang) shock,g percaya,merasa bersalah dg ank2..tp ini adlah rezekinya allah..ank sy pertma usia syallu 4th3bulan,ank kdua salwa 22bulan..
    Ada yg bs bagi tipsnya ga ya buibu..

    BalasHapus

Ads Inside Post