30/06/11

Materi Pra Nikah (PPT)

Beberapa pekan yang lalu, ada pembekalan untuk mahasiswi-mahasiswi muslim STAN yang akan lulus. Tema pembekalannya adalah tentang pernikahan.

Berikut adalah materi yang disampaikan dalam pembekalan tersebut. Dibuat oleh istri yang mengisi acara itu. Mungkin tidak sepenuhnya dapat diterapkan pada kondisi setiap orang yang berbeda-beda. Tapi secara garis besar, insya Alloh akan membantu ketika seorang muslimah memutuskan untuk segera menggenapkan dien-nya. Menerangkan mulai dari persiapan, ikhtiar dalam mencari jodoh, pembuatan biodata, sampai kepada menyiapkan walimah yang semoga berkah.

Bisa digunakan untuk menyampaikan materi serupa, tapi jangan lupa mencari referensi-referensi tambahan agar tak bingung dalam membaca slidenya :).

Tertarik? Silakan diunduh


29/06/11

Mengikhlaskan Istri untuk Pergi

Satu kalimat yang saya utarakan ketika akan meminang calon istri saya dulu adalah, “Ukhti, bersediakah untuk ikut berdakwah di Ternate?”. Satu pertanyaan yang kemudian disanggupinya, tapi ternyata memiliki konsekuensi tak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Kami berdua memang mempunyai cara pandang terhadap hidup yang sangat mirip. Di manapun berada, haruslah memberikan manfaat bukan hanya kepada diri sendiri tapi juga kepada orang lain. Dan ‘berdakwah’, adalah bahasa lain dari itu. Maka selepas nikah dan memboyong istri ke Ternate, Maluku Utara, sesegera mungkin mencari aktivitas yang mampu memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar.

Pada saat itu, kami sama-sama karyawan yang harus bekerja dari jam 7.30 sampai dengan 17.00. Bekerja lima hari sepekan, terkadang lembur di hari Sabtu. Maka konsekuensi dari ajakan yang saya sampaikan dan persetujuan yang diberikan oleh istri adalah, kami memiliki dua dunia. Pertama adalah dunia kerja, ketika kami hidup di kantor. Ke dua adalah dunia aktivitas kami. Saya aktif di salah satu LSM yang fokus terhadap pembangunan karakter pelajar, istri aktif di kepengurusan Persaudaraan Muslimah (Salimah) Pengurus Wilayah Propinsi Maluku Utara. Tentu saja waktu kami lebih banyak dihabiskan di luar rumah, belum lagi ditambah tugas-tugas kantor saya yang kadang harus ke luar pulau Ternate.

Dua tahun di Ternate, atas izin Alloh kami berdua mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Jakarta. Sejenak keluar dari rutinitas kantor. Sudah hampir dua tahun kami pindah di salah satu daerah di Tangerang Selatan ini. Alhamdulillah Alloh mengaruniai kami dua anak yang lahir sewaktu kami melanjutkan pendidikan di sini. Di kampus, selain kuliah, kami juga aktif kembali di organisasi kemahasiswaan. Saya aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa, sedangkan istri aktif di Keputrian Masjid Baitul Maal, semacam organisasi keagamaan yang menangani mahasiswi muslim di kampus. Ditambah harus mengurusi mas Fata dan dek Husna, dua batita kami, waktu yang kami miliki tidak lagi menjadi lebih senggang dibanding ketika kami masih aktif ngantor.

Ketika Rasa Berat untuk Melepasnya

Terkadang, hampir tidak ada akhir pekan yang kami lalui tanpa aktifitas di luar rumah. Kalaupun tidak bersamaan, salah satu dari kami hampir pasti memiliki agenda di akhir pekan. Tentu saja, sebagai suami kadang merasa berat untuk melepaskan istri beraktifitas di luar. Kadang rapat, kadang mengisi kajian, kadang mengisi mentoring adik-adik mahasiswi, kadang mengikuti pelatihan, dll. Hal yang juga saya lakukan sebenarnya. Tapi sebagai laki-laki kadang berpikir, mungkin lebih nyaman kalau istri hanya di rumah saja mengurusi saya dan anak-anak kami. Sebagaimana ibu-ibu rumahtangga lain yang pekerjaan utamanya adalah mengurusi rumah tangga, bukan yang lain.

Tapi tentu saja ketika empat tahun lalu saya meminang calon istri saya yang saya tahu adalah aktivis kampus tulen, yang saya paham bahwa pasti akan jadi PNS karena kami sama-sama kuliah di STAN, salah satu kampus kedinasan yang lulusannya akan jadi pegawai di Kementrian Keuangan, maka konsekuensi akan dua dunia itu niscaya akan saya hadapi. Bahwa dia akan bekerja seharian penuh, dan bahwa dia akan menginfakkan sebagian hidupnya untuk kemanfaatan orang lain. Dan suatu kebanggaan apabila saya bisa menjadi suami yang mendukung setiap aktivitasnya. Toh, ketika dia keluar juga bukan untuk arisan, bukan untuk shopping, maupun untuk bergosip ria dengan ibu-ibu yang lain. Harapannya, ketika saya mendukung semoga saja akan mendapat sebagian pahala dari aktivitasnya J.

Bukan Hanya Tanggungjawab Istri

Keluarga kami memiliki khadimat, yang mengasuh anak-anak dan membereskan pekerjaan rumah dari pagi sampai sore. Satu orang asisten rumah tangga tentu saja tak bisa menangani semua pekerjaan. Apalagi termasuk mengasuh dua anak. Maka tidak semua beban rumahtangga kami bebankan kepada khadimat kami, dan (semoga) tidak pula saya bebankan semuanya kepada istri. Apalagi istri saya selalu terinspirasi dari tulisan-tulisannya Pak Cahyadi Takariawan yang menyebutkan pendapat-pendapat ulama tentang hak dan kewajiban suami. Urusan rumah tangga, termasuk menyediakan makanan ternyata juga menjadi urusan bahkan tanggungjawab suami.

Maka pemahaman baru yang coba saya tanamkan pada diri saya sendiri adalah, bahwa urusan rumahtangga bukan hanya tanggungjawab istri. Masak-memasak, membersihkan rumah, manajemen keuangan keluarga, dan lain sebagainya. Tak mungkin saya memberikan beban berganda kepada istri dengan membiarkannya beraktifitas bahkan bekerja di luar rumah tapi juga membiarkannya sendirian memikirkan kehidupan rumahtangga kami. Tidak mudah memang, apalagi saya memiliki ibu yang full di rumah tanpa beraktifitas di rumah sehingga pemahaman tentang ibu menurut saya awalnya ya bertugas menyelesaikan segala urusan rumah tangga. 

Dari Al-Aswad, saya bertanya kepada Aisyah, “Apa yang dikerjakan Rasulullah saat berada di dalam rumahnya?”  Aisyah menjawab, “Beliau membantu keluarganya jika waktu salat tiba, beliau keluar.”  (HR Bukhari)

Membangun Mimpi Bersama

Hal yang penting menurut kami adalah kesamaan mimpi antara suami dan istri. Mimpi kami adalah membina keluarga yang barokah dengan anak-anak yang salih dan salihat, sekaligus membuat semua keluarga bermanfaat untuk umat dan masyarakat. Maka konsekuensi dari usaha untuk meraih mimpi bersama itu pun juga harus ditanggung bersama. Istri saya bekerja, tentu mempunyai penghasilan yang juga digunakan untuk operasional keluarga kami. Sangat tak elok apabila saya sebagai suami menikmati sebagian dari penghasilannya tapi tak memenuhi haknya untuk dibantu mengurus rumah tangga kami. Dan sepertinya mimpi yang selalu kami bangun setiap saat itu yang membuat kami menikmati berbagai profesi yang melekat. Sebagai suami/istri, sebagai ayah/ibu, sebagai pegawai negeri, sebagai aktivis sosial, sebagai anggota masyarakat, dsb. Sampai sekarang, kami anggap bahwa masing-masing peran itu tidak ada yang bertolak belakang, meski tidak menutup kemungkinan di masa mendatang ada beberapa peran yang harus kami rasionalisasi. Tapi semoga tidak perlu merasionalisasi dua mimpi besar yang kami susun dari awal itu.

Disclaimer

Tentu saja tulisan ini bukan menunjukkan kehebatan kami, karena memang tidak ada yang hebat. Hanya sekedar berbagi, semoga menjadi pengingat kami di lain hari.

Bulak Kelapa di Penghujung Juni

28/06/11

Seputar Makanan Halal

Ada satu tempat makanan yang jadi favorit kami untuk berkencan dulu ketika masih di Ternate. Nasi goreng sunda yang masakannya ciamik. Nasi goreng, mie goreng, mie rebusnya bisa menggoyang lidah tanpa harus mengoyak kantong. Terlebih, di spanduknya ada tulisan “halal” yang bikin tambah betah langganan di situ. Suatu ketika saat makan di tempat itu dan mengobrol dengan penjual, iseng-iseng melihat cara si bapak memasak nasi goreng. Ternyata ada satu botol bertuliskan huruf china yang digunakan sebagai bumbu. Angchiu? Batin kami.

Keesokannya, sewaktu jalan-jalan di mall –yang waktu itu masih satu-satunya mall di ternate-, kami melihat botol yang sama di supermarket. Karena penasaran, maka kami melihat-lihat tulisan dalam botol tersebut. Benar saja, angchiu! Anda tahu ang chiu? Ang-chiu = arak merah (dibuat dari ketan hitam/merah), seperti halnya 'rum', ang-chiu juga mengandung alkohol, walau mungkin kadarnya relatif tidak besar, sebagai penyedap masakan, dan sangat sering digunakan untuk memasak nasi goreng, mi goreng, dan sebangsanya. Sejak saat itu, tidak lagi-lagi kami makan di tempat itu, meski kadang godaan dan argumen pembenaran sering muncul untuk sedikit mencicipi masakan di sana.

Membicarakan makanan halal, ternyata membicarakan masalah yang pelik dan tidak sederhana. Alhamdulillah, kami pernah berkawan dengan muslim dan muslimah yang begitu perhatian dengan masalah kehalalan suatu makanan. Beberapa dari mereka menjadi rujukan untuk bertanya apakah produk A sudah mendapatkan sertifikat halal, apakah restoran X sudah dinyatakan halal, dan sebagainya.

Ribet amat yak?

Suatu ketika ibu saya pernah terheran-heran dengan tingkah istri ketika belanja berdua di supermarket. Kebiasaan kami, ketika membeli suatu produk di supermarket, maka akan melihat label halal (kalau bisa label resmi dari MUI), kemudian melihat merek, apakah termasuk produk boikot kami atau tidak, kemudian tentu saja melihat harga, hehe. Karena saat ini kita dikepung oleh produk-produk yang tidak jelas kehalalannya. Roti banyak memakai rum yang mengandung alkohol, permen banyak memakai gelatin yang mengandung babi, restoran banyak yang memakai alkohol dan campuran babi, obat banyak yang memakai kapsul yang terbuat dari gelatin yang diolah dari babi. Maka tidak ada jalan lain bagi kami kecuali berusaha untuk mengkonsumsi barang dan makanan yang sudah diaudit oleh lembaga yang berwenang dan dinyatakan halal. Bahkan kawan kami ketika masuk restoran sering bertanya kepada pelayan atau manajernya, “Apakah restoran ini sudah halal?”.

Mungkin memang terdengar sangat ribet dan melakukan hal yang sia-sia. Bukankah kalau kita tidak tahu maka tidak berdosa? Untuk itu kami mengingat pesan Baginda Rosululloh yang mengingatkan kita bahwa sekerat daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih layak baginya. Karena syaithan akan senang berenang-renang di dalam pembuluh darah yang mengalirkan saripati makanan haram. Dan karenanya, tubuh kita akan mudah terkontaminasi dengan kema’shiyatan. Maka tak heran, setetes makanan haram akan menjauhkan kita dengan Alloh dengan jarak selautan.

Maka karena itulah, kami menyambut dengan riang ketika kawan-kawan mengajak untuk lebih memperhatikan masalah makanan. Meski belum sempurna betul, paling tidak semangat untuk menjaga diri agar tidak terkontaminasi zat yang diharamkan, menjadi jalan agar Alloh mengabulkan doa-doa kami. Bukankah ketika Sa’ad bin Abi Waqqash meminta kepada Rosululloh untuk didoakan agar doa-doa yang ia panjatkan selalu dikabulkan Alloh, maka syarat Rosululloh hanya satu? “Bantu aku dengan memperbaiki makananmu... bantu aku dengan memperbaiki makananmu...”, kata beliau shollalohu ‘alaihi wasallam kepada Sa’ad Rodhiallohu ‘anhu.

Label Halal, bukan mengharamkan yang halal

Kaidah umum dari makanan adalah, “Semua makanan adalah halal, kecuali yang diharamkan”. Makanan yang diharamkan oleh Alloh jumlahnya jauh lebih sedikit daripada makanan yang dihalalkan olehNya. Bangkai, binatang bertaring, babi, khamr, dan sebagainya yang kita semua sudah mafhum terhadapnya. Selain itu? Dihalalkan untuk kita makan.

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al Maidah: 3)

Akan tetapi, sekarang muncul label halal yang dikeluarkan oleh lembaga yang diberikan otoritas di negara masing-masing. Label halal tersebut seakan mengatakan bahwa, “Semua makanan itu haram kecuali yang berlabel halal”. Seharusnya, ketika kita mengingat kaidah makanan yang menyebutkan bahwa semua makanan itu halal kecuali yang diharamkan, maka yang lebih pas adalah labelisasi haram, bukan labelisasi halal. Akan tetapi, karena mungkin memang belum memungkinkan untuk dilakukan, labelisasi makanan halal sangat kita apresiasi dan patut mendapat dukungan masyarakat terutama masyarakat muslim. Cara mengapresiasinya, salah satunya dengan hanya mengkonsumsi produk dan makanan yang telah mendapatkan sertifikat halal. Karena kalau bukan kita yang mendukungnya, siapa lagi? Kalau sudah banyak produsen yang mencantumkan label halal dari lembaga resmi yang ditunjuk, kenapa kita lebih memilih membeli makanan yang belum jelas kehalalannya? Dan kalau kita sering meributkan makanan yang diduga mengandung zat yang berbahaya, kenapa jarang sekali yang mempersoalkan kehalalan sebuah produk makanan?

Masalah warteg

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana mensikapi produk atau makanan yang tidak mencantumkan label halal?

Maka ini murni pendapat saya pribadi. Ibarat laporan keuangan, maka kita akan yakin bahwa laporan keuangan tersebut tidak menyalahi aturan ketika sudah dilakukan audit dan dinyatakan unqualified opinion (wajar tanpa pengecualian). Dan tentu saja kita tidak akan merasa yakin laporan keuangan tersebut sudah benar apabila belum diaudit, atau sudah diaudit akan tetapi mendapat opini disclaimer. Begitu juga dengan makanan. Tentu saja, kita seharusnya akan yakin makanan tersebut halal ketika sudah diaudit oleh MUI atau BPOM kemudian mendapatkan sertifikat ‘halal’. Sebaliknya, harus berhati-hati ketika mengkonsumsi makanan yang belum diaudit dan belum dinyatakan ‘halal’. Sekali lagi, ini bukan untuk mengharamkan yang halal, tapi semata-mata untuk menjaga diri dan keluarga kita dari masuknya zat-zat haram meskipun hanya setetes.

Dan untuk warung-warung pinggir jalan yang hampir semuanya tidak memiliki jaminan halal, insya Alloh Islam tidak akan mempersulit ummatnya. Ketika secara kasat mata makanan tersebut tidak berbahan haram, maka kita diperbolehkan untuk mengkonsumsinya. Ayam bakar, ayam goreng, sate kambing, rendang, dsb secara dzahir tidak mengandung barang haram, maka insya Alloh diperbolehkan untuk mengkonsumsinya. Kecuali ketika kita mendapati terdapat zat haram yang digunakan, seperti pengalaman saya terhadap nasi goreng yang diceritakan di atas.

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Alloh, jika benar-benar hanya kepadaNya kamu menyembah” (Al Baqarah 172)

Allohu a’lam

27/06/11

Dokter atau Bidan?

Kalau nimbrung di obrolan ibu-ibu atau calon ibu ataupun bapak-bapak dan calon bapak, kadang ada topik yang seru untuk dibicarakan. Periksa ke dokter atau bidan? Lahir ditangani dokter spesialis kandungan atau bidan? Ada yang fans berat bu bidan dan mengatakan bahwa sangat tidak perlu memeriksakan kandungan apalagi sampai melahirkan di dokter spesialis kandungan, ada yang penggemar setia dokter sampai-sampai lebih rela antri di dokter kandungan daripada periksa di bidan. Dramatisasi memang, tapi obrolan dua kubu ini masih sering terjadi. Obrolan berikutnya adalah tentang, lahir normal atau cesar? Dan terakhir berlanjut kepada ASI eksklusif dan ASI tak eksklusif. Obrolan yang biasa-biasa saja sebenarnya, tapi terkadang menjadi serius karena ada pihak yang dianggap ‘nyinyir’ oleh pihak yang lain. Dan ada pihak yang terlalu sensitif terhadap pembicaraan itu.

Dokter atau Bidan?

Sewaktu hamil pertama, istri pernah divonis ketubannya kering oleh dokter spesialis kandungan pada saat usia kandungan masuk bulan ke sembilan dengan ditunjukkan hasil USG di layar monitor. Dan saran dokter, harus segera dioperasi sebelum tujuh hari dari waktu periksa tersebut. Kebetulan saat itu istri sedang ada di Karanganyar, Solo karena memang berniat melahirkan di rumah orangtua. Sedang saya sedang di Jakarta karena harus menyelesaikan kuliah. Panik, tentu saja. Tapi karena kebijaksanaan saya (halah), akhirnya diputuskan untuk mencari second opinion. Dan alhamdulillah, opini ke dua dan ke tiga menyatakan bahwa kandungannya baik-baik saja dan masih sangat sehat.

Keputusan untuk segera melakukan cesar itulah yang membuat sebagian orang enggan untuk ke dokter kandungan. Sementara bidan jarang sekali merekomendasikan untuk operasi cesar.

“Makanya ke bidan saja periksanya... kalau ke dokter, dikit-dikit cesar, dikit-dikit operasi”, kata si fulan.

Sebenarnya bidan maupun dokter kandungan adalah sama-sama profesi yang membidangi masalah kandungan dan masalah persalinan. Dan lebih baik mana, dokter atau bidan?

Untuk menjawab, tentu saja tergantung dari kondisi ibu, janin, dan keluarga masing-masing. Dari sisi biaya, tentu saja dokter kandungan relatif lebih mahal daripada bidan. Dari sisi peralatan, biasanya dokter lebih lengkap peralatannya, termasuk USG. Dari sisi pengalaman, bisa jadi bidan lebih banyak pengalamannya, apalagi bidan yang senior. Sedangkan dokter, kalau baru lulus ya tentu saja pengalamannya minim.

Terus, dokter atau bidan? Tentu saja terserah dari kita dan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita. Sama saja, dan kembali kepada kecerdasan kita dalam memilih. Periksa ke bidan pun tak masalah. Sekarang banyak bidan yang membuka praktek dan bekerjasama dengan dokter untuk melayani USG. Dan sebaliknya, dokter kandungan pun di klinik-klinik bersalin juga pasti dibantu oleh bidan untuk melayani persalinan.

Yang pasti, seorang muslimah tentu akan risih ketika dilayani oleh dokter yang laki-laki. Jadi kalau ada dokter kandungan tapi laki-laki dan ada bidan yang perempuan, kecuali force majeur, ya tentu saja milih bidan yang perempuan.

Cesar atau Normal?

Obrolan yang satu ini kadang cukup sensitif. Beberapa orang, dalam obrolan di milis ataupun forum diskusi terkadang memojokkan dan memandang remeh ibu-ibu yang melahirkan dengan cara cesar. “Gak ada perjuangannya”, katanya. Padahal faktanya, tak semua persalinan memungkinkan untuk dilakukan normal. Bayi terlalu besar, pinggul terlalu kecil, kesehatan ibu yang tidak memungkinkan, di antaranya merupakan alasan kuat untuk dilakukan cesar. Dan untuk menyelamatkan ibu dan anak, tak bijak tentu saja untuk memaksakan diri melahirkan secara normal. Dan cesarpun bukan tanpa perjuangan. Lha wong katanya sakitnya bisa berbulan-bulan kok J

ASI eksklusif

Satu hal yang cukup menggembirakan akhir-akhir ini adalah kesadaran untuk memberikan ASI Eksklusif untuk buah hati tercinta, minimal sampai 6 bulan. Jaman dulu, kata orang-orang tua, bayi berumur beberapa hari sudah dikasih nasi, biar gak kelaparan, hehe.

Sayangnya, beberapa ibu tidak memungkinkan untuk memberikan ASI. Entah itu ASInya tidak keluar, ataupun alasan yang lain. Dan topik ini menjadi tak kalah sensitifnya ketika ada orang yang memojokkan ibu lantaran tak bisa memberikan ASI Eksklusif. Lha kalau memang tak memungkinkan, mau gimana lagi?
Kecuali kalau sang ibu memang enggan menyusui anaknya dan lebih suka membelikan susu formula yang mahal, tentu lain ceritanya :D.

Intinya adalah, banyak kondisi yang tidak bisa disamakan antara seseorang dengan orang yang lain. Dan sebagai suami harus mengerti kondisi ini sehingga dapat memberikan dukungan dan semangat untuk ibu dari anak-anak kita.

Semoga bermanfaat

Romantisme Keluarga Pejuang

Ada sesuatu yang khas dari kehidupan orang-orang itu. Secara kasat mata mereka adalah pasangan shalih dan shalihah. Paling tidak, sang istri mengenakan jilbab sesuai tuntunan Rosululloh, sedang sang suami berperilaku baik, menutup aurat, rajin Subuh berjamaah di mushola, dan tidak merokok. Di tengah masyarakat, mereka diterima baik oleh tetangga-tetangganya, ramah bertegur sapa dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan.

Kehidupan cinta rumah tangga merekapun membuat saya takjub dan tertegun. Mereka tidak segan menunjukkan kemesraan mereka, memamerkan keromantisan mereka dengan masih memperhatikan adab sopan santun ketimuran. Bergandengan di jalan, olahraga berdua, atau sekedar makan di pinggir jalan layaknya anak muda yang pacaran. 

Alhamdulillah, rumah kami dikelilingi oleh orang-orang shalih yang hobi merawat cinta itu. Kami pernah tergelak melihat Mas Sarimin, tetangga kami, sewaktu berangkat kondangan bersama. Ketika pesta sudah usai, dan kami bersiap untuk pulang, beliau masih menunggu sesuatu. Selidik punya selidik, ternyata dia menunggu pesta benar-benar usai karena dia mengincar sebuah rangkaian bunga segar agar bisa dihadiahkan kepada istri tercinta di rumah. Atau suatu ketika kami pernah tersenyum-senyum melihat Pak Asep, salah satu guru mengaji kami menjemput istrinya di sore hari sepulang kantor kemudian berboncengan menuju tempat makan untuk sekedar memesan seporsi pempek. Mungkin akan terlihat biasa buat pasangan muda, tapi menjadi luar biasa karena anak beliau ada yang sudah menginjak remaja. Dan kemarin kami tersenyum melihat Ustadz Sanusi, tetangga depan rumah kami, berboncengan mesra dengan istrinya. Meskipun rambut sudah agak beruban, tapi masih sangat luwes layaknya anak SMA yang sedang memboncengkan pacarnya.


Ah… mungkin itu biasa. Semua orang juga bisa melakukan hal itu. Sekedar merawat cinta mungkin memang naluri dan kebutuhan setiap orang dan akan dilakukan oleh semua orang dengan caranya masing-masing. Meskipun sebenarnya tidak semua begitu, karena perawatan cinta yang terus menerus hanya dilakukan oleh orang-orang dengan bakat romantis yang terpendam di hatinya.

Kalau begitu, satu lagi yang membuat saya iri dan ingin meniru. Orang-orang romantis, seperti kata Anis Matta dalam salah satu tulisannya, selalu rapuh. Bukan karena dalam romantisme itu ada sifat rapuh. Tapi orang-orang romantis itu selalu punya jiwa yang halus. Dan sayangnya, kehalusan jiwa itu sering berkawan dengan kelemahan. Maka bertemulah logika hubungan romantisme dengan kerapuhan dan kelemahan. Akan tetapi keluarga-keluarga salih itu, memiliki romantisme yang tinggi, tapi juga menjauhkan diri dari kelemahan. Maka kita melihat keluarga-keluarga itu adalah keluarga-keluarga pejuang yang mampu menyatukan romantisme dengan kekuatan jiwa.

Biasanya orang-orang romantis yang selalu diliputi cinta akan enggan melepas kekasihnya berpisah dengannya, apalagi untuk waktu lama. Akan tetapi di keluarga-keluarga pejuang itu, mereka akan dengan rela melepas anggota keluarganya pergi, untuk membagi cinta mereka kepada umat dan negeri ini. Mengikuti atau mengisi kajian pekanan, pelatihan-pelatihan, bahkan sampai kemping di gunung Halimun menjadi kegiatan rutin keluarga-keluarga itu. Konsekuensinya? Waktu kebersamaan mereka tidak akan bisa maksimal. Tapi itu konsekuensi dari kehalusan jiwa dan bakat cinta mereka. Dan sifat romantisme mereka, akan selalu menemukan cara sehingga kegiatan-kegiatan di luar rumah tidak akan mengurangi prioritas mereka mendidik anak-anak mereka menjadi pecinta sejati yang tidak hanya membagi cinta kepada diri, tapi juga ummat dan negeri ini.

Semoga Alloh memudahkanku mengikuti jejak para pecinta sejati itu…

Tidak Harus Kau!

“Tidak harus kau! Tapi aku hanya malu bertemu Tuhanku dalam keadaan membujang”
(Sakti Wibowo, Sepasang Merpati Berkalung Safir)


Waktu itu bulan April 2007. Keinginan dan kegelisahan yang muncul di hatiku semakin kuat. Aku harus menikah. Saat itu juga, atau paling tidak tidak lama-lama dari bulan April.
Pertama, karena sebelumnya aku telah mentargetkan bulan Februari 2007 sebagai bulan pernikahanku, dengan asumsi saat itu sudah berpenghasilan, tapi ternyata meleset.
Kedua, kondisi internal dan eksternal yang seperti mengharuskanku untuk menggenapkan separuh din, sesegera mungkin.
Ketiga, mungkin saja karena saat itu aku baru saja penempatan kerja di Ternate, Maluku Utara, bulan Maret 2007. Mungkin keinginan menikah hanyalah keinginan untuk mencari penghibur dan ‘pembagi sengsara’ di tanah orang. Tapi sepertinya tidak. Keinginan untuk segera menikah tidak muncul hanya ketika berada di Ternate. Keinginan itu sudah muncul bahkan sejak semester dua kuliah di STAN, dan target untuk segera menikah setelah lulus kuliah juga sudah disounding ke orang tua setiap kali pulang saat liburan setelah ujian.

Penantian itu ternyata tidak mudah. “Faktor Ternate ternyata cukup menyulitkan, akh”, kata seorang ustadz yang saya mintai tolong untuk mencarikan gadis Jawa yang mau diajak berlayar ke daerah jauh itu. Sebenarnya syarat yang saya ajukan cukup simple, dari Jawa, karena memang sepertinya hanya itu pula syarat dari orangtua.

Sampai akhirnya muncullah nama itu. Nama yang dulu hampir selalu didengar waktu di kampus yang sering mengerjakan amanah bersama-sama, yang katanya kalau dia menikah saya akan diminta jadi saksinya; kini aku ditawarkan dan berkesempatan untuk meminangnya! Rasa ragu menelusup, membayangkan omongan dan persepsi kawan-kawan kalau kami yang dulu sering satu organisasi harus bersatu dalam ikatan pernikahan. Apa kata dunia? Tapi menimbang baik dan buruknya, terutama keinginan yang sangat kuat untuk segera menikah dan faktor bahwa ternyata agak susah mencari yang benar-benar siap diterbangkan ke pulau seberang, membuatku memberanikan diri meminta nomer HP ayah sang akhwat dan langsung menelponnya. Gak usah pakai ta’aruf-ta’arufan. Toh udah kenal. Cukup biodata berlembar-lembar darinya tanpa foto, dan dua lembar biodata dariku dengan foto sisa waktu bikin KTP dulu.

“Mas ini siapa?”, suara di seberang sana sedikit menyadarkanku. Aku langsung berusaha memperbaiki bicaraku. Mengenalkan kembali nama, dan langsung bercerita bahwa ingin meminang putrinya.
“Saya ini kan belum mengenal mas. Belum mengetahui apa mas dari keluarga baik-baik atau tidak. Mana mungkin saya bisa langsung meng-iyakan keinginan mas untuk melamar anak saya?”
“Insya Alloh saya serius, pak. Bahkan saya bisa langsung melamar dengan keluarga saya.”
“Datang dulu ke sini lah. Bicara baik-baik…”

Waduh, datang ke Solo berarti harus menyiapkan uang untuk tiket PP Ternate-Jogja dan ongkos dari Magelang ke Solo. Tiket Ternate-Solo sekitar 1,2 juta waktu itu.
“Iya, pak. Insya Alloh saya akan datang ke rumah”, jawabku mantap meski sebenarnya ketar-ketir masalah biaya.

Dengan meminjam uang dari teman-teman semasa kuliah, akhirnya awal Mei aku pulang. Kalau tidak salah, 13 Mei 2007, dengan ditemani sepupu (gak keren banget sih) datang menemui orang tua akhwat dan langsung menegaskan kembali keinginan untuk menikah. Sesegera mungkin. Alhamdulillah, tidak seperti ketakutan yang dibayangkan, jawaban “oke” langsung diterima dari ayah dan ibu si akhwat. Tidak perlu waktu lama, karena memang tidak boleh ijin kantor berlama-lama, 17 Mei 2007 lamaran resmi dengan keluarga dan diputuskan untuk menggelar pernikahan tanggal 7 Juli 2007, pas liburan sekolah, pas tanggalnya cantik pula.

Masalah ijin sudah didapat, tinggal masalah ke dua yang fundamental. Duit. Teryata gajiku tidak juga beranjak dari angka 850 ribu rupiah. Untuk mas kawin, dan biaya walimah tidak mungkin dilimpahkan semua ke orang tua. Mereka cukup mengurus teknis saja sekaligus menjawab gunjingan para tetangga yang curiga dengan pernikahan mendadak kami. Akhirnya, aku memberanikan diri menyuruh bapak meminjamkan uang dengan perjanjian kalau ada rapelan gaji dari kantor akan kukembalikan sepenuhnya. Dan Alhamdulillah, semuanya lancar.

Dan pernikahan itu terasa sangat mudah. Rizky terus mengalir ketika benar-benar dibutuhkan untuk biaya tiket pesawat dari Ternate ke Magelang dan Solo, atau untuk persiapan yang lain. Rapelan satu demi satu cair, dan hampir selalu pas saat kami membutuhkan, meski sebenarnya masih sangat pas-pasan untuk mempersiapkan sebuah pernikahan. Dan ketika selesai mengajukan cuti menikah, muncul surat yang menyatakan aku harus mengikuti Diklat Prajabatan di Manado sampai tanggal 6 Juli 2007. Jadilah calon pengantin harus ber’prajab’ ria dan menyerahkan segala urusan pernikahan ke keluarga saja. Bahkan aku ingat, 6 Juli 2007 langsung terbang ke Jogja, dan di perjalanan mampir untuk membeli jas yang akan kukenakan waktu akad nikah besoknya.

Alhamdulillah, pernikahan bersejarah itu akhirnya terjadi juga, tepat pada tanggal keren 070707, atas bantuan banyak sekali kawan dan saudara, atas kemurahan Alloh ‘Azza wa Jalla.

Dan setelah 3,5 tahun menikah, aku kembali berpikir. Mungkin dulu memang tidak harus dengan dia aku menikah, yang penting menikah. Tapi sekarang, aku mulai sadar, sepertinya tak akan ada pernikahan jika tidak dengan dia, adinda Inge Febria Aryandari :)

Seri Pernikahan : Kompromi dengan Pasangan

Saya masih ingat waktu itu calon istri saya agak protes karena dalam masa ta’aruf saya tidak menyinggung dan menanyakan masalah ma’isyah (penghasilan), termasuk apakah boleh nanti dia memberikan sebagian penghasilannya untuk keluarganya. Protesnya beralasan, karena memang seharusnya hal-hal seperti itu diselesaikan dan disepakati di awal agar tidak terjadi kesalahpahaman nanti. Tapi waktu itu saya merasa itu pertanyaan yang tidak prioritas. Yang lebih prioritas adalah memastikan tentang visi dan mimpi tentang masa depan. Ditambah saya sudah sangat bersyukur ada yang mau ‘didamparkan’ di pulau terpencil bernama Ternate, dan lebih bersyukur ketika sepertinya cara pandang kami terhadap hidup dan fungsi rumah tangga sama, membina rumah tangga untuk memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Tapi akhirnya saya tanyakan juga, meski tak ingat persis jawabannya seperti apa.

Masa-masa pengantin baru ternyata menjadi masa penyesuaian yang cukup menantang bagi kami kala itu. Dua sifat, dua selera, kadang-kadang dua sudut pandang juga. Istri saya suka makan ikan, saya malas dan gak doyan ikan. Sedangkan di Ternate karena daerah pantai maka makanan yang tersaji kebanyakan adalah ikan. Saya tidak suka ikan, tapi suka makanan bakar-bakaran. Istri suka ikan, tapi tidak suka bakar-bakaran. Maka kompromi pertama kami waktu di Ternate, beli ikan bakar. Mengakomodir istri yang suka ikan sekaligus mengakomodir saya yang suka bakar-bakaran. Dan itulah pertama kali saya jadi suka ikan sekaligus pertama kali istri suka makanan yang dibakar. Alhamdulillah…

Dan setelah waktu berlalu, kami semakin belajar tentang kompromi. Sejatinya kami bagaikan dua batang kayu, kalau ingin disatukan dan bisa merekat kuat, masing-masing harus rela dikerok, dibentuk sedemikian rupa, biar bisa klop dan dan kuat untuk direkatkan. Semakin hari Alhamdulillah terasa semakin mudah. Dan mimpi kami untuk membuat ide-ide besar di istana yang kami kelola sendiri membuat kami belajar untuk mengesampingkan gesekan-gesekan kecil yang dulu terasa berat, tapi lama-kelamaan semakin terasa ringan.

Tapi kami masih harus banyak belajar. Usia pernikahan belum genap empat tahun, belum benar teruji mungkin. Kami masih harus banyak belajar, bagaimana menghangatkan cinta agar tak pernah basi, kami harus belajar bagaimana mendidik anak agar tak putus generasi pewaris para nabi, kami harus belajar bagaimana agar prinsip-prinsip kami tak terkalahkan oleh kompromi sendiri.

Saya juga harus belajar bagaimana agar komunikasi dan akomodasi terhadap istri tak membuat saya ikut-ikutan masuk grup ‘suami-suami takut istri’. Terlihat tidak serius memang. Tapi ternyata banyak leader yang terjebak dalam situasi ini, sangat bergantung pada istrinya untuk membuat keputusan. Rela mengorbankan prinsip daripada harus dengar omelan istrinya. Maka saya harus lebih merenungi lagi kaidah “ar rijalu qawwamu ‘ala an nisaa’, laki-laki itu harus bisa jadi pemimpin bagi wanita-nya”.

Doakan kami, semoga istiqamah di jalan ini. Ibarat memadukan dua batang kayu. ada yg harus dipotong, ada yg harus diserut, ada yg harus dihilangkan sebagiannya demi padu padannya... :)

Sederhana Saja

Seorang pujangga berujar
Untuk kekasihnya

Kan dicintainya
Dengan sederhana

Aku padamu pun
Sederhana saja

Seperti umbel di hidung anak kita
Bening
Selalu ada
Dan tak pernah bosan mengalir

(Puisi Eko Novianto dalam buku "Engkaulah Matahariku")

Edisi Syukur

“Aaabii...”, Fata menepuk-nepuk punggungku dengan tangan kecilnya.
“Cucu”, ucapnya sambil memberikan botol susu yang sudah kosong. Jam 01.00 ternyata. Ngantuk sekali, aku berjalan ke kulkas sambil terhuyung-huyung. Susu UHT punya fata habis, malam ini ia minum ASI perah yang ada di kulkas. Tambah air panas dikit biar gak usah manasin.
“Dingin...”, katanya sambil melempar botol susu yang baru kuisi ke sampingnya. Ia tidak mau meminumnya. Aku ambil lagi botol susunya, kutambah dengan air panas di dispenser biar lebih hangat. Lalu kembali ke kamar dan memberikan botol susu itu ke Fata.
“Taloh...”, anakku meminta untuk menaruh saja botol susunya. Dan dia tertidur lagi, tanpa peduli dengan susu yang sudah payah-payah kusiapkan. Grrrgghhhh... -_-", eh, Subhanalloh... ciptaan Alloh yang satu ini :D



Peran yang sekarang sangat saya syukuri dan nikmati adalah peran menjadi ayah. Setelah bertahun-tahun menunggu. Pertengahan 2007 kami menikah, baru akhir 2009 anak pertama kali lahir. Menunggu hampir 2 tahun sebelum akhirnya test pack istri menyatakan positif pada bulan April tahun 2009. Setelah hamil pun, deg-degan itu belum berhenti, apalagi setelah dokter kandungan menyatakan bahwa anak pertama kami adalah laki-laki. Terus terang, saya tak mengharapkan anak pertama kami berjenis kelamin laki-laki, setelah riwayat keluarga istri yang tidak menyenangkan dengan bayi laki-laki seperti yang ditulis di sini. Tapi apapun itu, karunia Alloh sekaligus takdir Alloh tak boleh kami ratapi. Saya yakin, Alloh yang lebih tahu apa yang terbaik bagi hambanya. Alhamdulillah, sejak dalam kandungan Fata sehat, lahir dalam kondisi sehat, dan tumbuh dengan sehat. 17 bulan sekarang umurnya, sudah bisa berjalan dan bicara.

Husna, adik Fata lahir 2 bulan yang lalu. Waktu Fata berumur 15 bulan. Banyak yang protes ketika Fata masih berumur 6 bulan dan istri sudah hamil lagi. Tapi sebenarnya bukan tanpa alasan kami memutuskan untuk mempercepat anak ke dua. Istri dan saya sedang sama-sama tugas belajar sampai akhir tahun 2011 atau awal 2012 nanti. Mumpung lepas dari rutinitas kantor, tentu akan lebih banyak waktu untuk membersamai anak-anak, pikir kami.

Membesarkan dua batita sekaligus, ternyata memang bukan pekerjaan ringan. Tapi bukan juga pekerjaan berat. Karena kami sadar bahwa ketika adiknya lahir nanti akan butuh ASI dan perhatian lebih dari ibunya, maka sejak hamil muda, Fata berusaha untuk saya ‘ambil alih’. Umur 12 bulan atau kehamilan istri bulan ke 6, Fata sudah terbiasa bobok dengan saya, sampai sekarang. Mandi, bermain, mengganti baju, membersihkan kotoran waktu dia pup, selain menjadi tugas Mamak yang mengasuhnya, juga menjadi tugas rutin saya. Alhamdulillah, ketika adiknya lahir, Fata tidak merasa kehilangan kasih sayang dari siapapun. Tidak dari ibunya, tidak dari saya, tidak juga dari mamaknya. Biasa saja sepertinya. Ternyata ketika dia diajari untuk menyayangi adiknya di dalam perut, rasa sayangnya juga ditunjukkan ketika adiknya lahir. Meski kadang ketika dia mencium, memeluk dan mengajak bermain adiknya bikin jantung deg-degan.

Banyak kerabat yang ketika menjenguk anak ke dua kami bertanya, “Apakah Fata cemburu sama adiknya?”. Alhamdulillah tidak. Tidak pernah dia merebut mainan adiknya atau merengek-rengek ketika salah satu dari kami menggendong adiknya. Baru ketika bouncer, playmate, atau tempat tidur Husna tidak dipakai, dia menggunakannya untuk bermain.

Sekarang, kuliah istri sudah selesai, tinggal menyusun skripsi. Dua bulan lagi pun saya begitu. Semoga bisa lebih banyak waktu di rumah, membersamai tumbuh kembang anak-anak kami, sebelum tahun depan harus meninggalkan rumah dari pagi sampai sore untuk kembali ke bekerja.

“Umur berapa kita punya cucu ya Mi?”, tanya saya ke istri suatu sore.
“Kalau Fata nikah umurnya sama kayak kita, 21 tahun, berarti mungkin 20 tahun lagi, Bi.”

Betul, 20 tahun lagi. Dan itu bukan waktu yang lama. Semoga Alloh memberi kami kemampuan untuk membekali mereka agar siap menjadi muslim/muslimah tangguh yang akan menaklukkan dunia ini. 

Ketika Anak 'Kesundul'



Fata baru berusia 6 bulan ketika kami menyadari ada janin di rahim ibunya. Antara senang dan kaget waktu itu. Sebelum istri hamil, memang saya sempat berkelakar ingin segera memiliki anak lagi, dan semoga anaknya perempuan. Tapi sebenarnya tak begitu serius kelakaran waktu itu. Dan ternyata Alloh mengabulkan perkataan saya. Istri mengandung, dan beberapa bulan setelahnya diprediksi bahwa anak ke dua kami adalah perempuan. Istilah Jawanya, Fata ‘kesundul’, karena seakan tak sengaja mendapatkan adik ketika usia masih kecil. Sebenarnya sih antara kesundul dan tak kesundul, karena tadinya kami berencana memprogram agar adiknya Fata lahir ketika istri skripsi, agar tak terlalu mengganggu kuliahnya. Tapi ternyata Alloh memberi 3 bulan lebih cepat, lahir tepat setelah umminya selesai ujian tengah semester :D.

Tentu tak begitu mudah ketika istri hamil, dengan kondisi yang tak begitu fit, sedangkan Fata masih suka bermanja-manja, minta gendong, dan masih nenen. Kata orang-orang tua dulu, tak boleh menyusui ketika hamil. Tapi menurut dokter dan referensi yang kami dapat, tak masalah menyusui ketika hamil sepanjang tak ada masalah dengan ibunya. Akhirnya sampai umur 13 bulan, Fata masih mendapatkan ASI, sampai akhirnya tersapih dan tergantikan dengan botol dan susu UHT. Tak lulus ASI sampai dua tahun seperti yang dianjurkan, tapi insya Alloh itu pilihan terbaik yang bisa kami berikan.

Selama kehamilan, kami berusaha untuk memahamkan bahwa akan ada adik yang nanti muncul, dan sekarang masih di dalam perut. Entah mengerti atau tidak, selama istri hamil, Fata hobi mencium dan melihat perut gendut umminya, bahkan masih dicarinya sesaat setelah adiknya lahir dan perut umminya kembali kempes. Alhamdulillah, Fata terlihat tak pernah cemburu dengan adiknya. Ketika saya, umminya, maupun mamak yang di rumah menggendong adiknya pun tak pernah diprotes, asalkan dia boleh mencium adiknya. Ketika bobok di kamar, di bouncer, maupun di kasur bayi, adiknya sering ‘ditubruk’ lalu dicium dan kadang dijilati. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang semua masih aman, tak pernah merebut barang-barang ataupun menyakiti adiknya. Meskipun kadang ketika tak dipakai adiknya, bouncer dan barang-barang lain yang memang dulu punya Fata, dipakai, dinaiki dan ingin tidur di sana, padahal sudah tak sesuai dengan bobot dan umur Fata sekarang.

Urusan bobok, sejak tak lagi minum ASI, bobok Fata menjadi urusan abinya. Meski kadang saya tak selalu berhasil membobokkan, dan harus umminya yang turun tangan, tapi kalau malam, Fata bobok sama abinya. Maka saya telah hafal kapan ketika terbangun ia pengen susu, atau pengen pindah posisi dan dikeloni sama umminya. Agak trenyuh kadang ketika ia hanya melihat dengan wajah mupeng waktu umminya sedang ngeloni adiknya. Karenanya, kalau adiknya sudah bobok, istri sengaja mendongeng dan membacakan buku untuk Fata, agar tak merasa dinomorduakan karena kemunculan adiknya.

Alhamdulillah, kami sedang diberi kesempatan untuk belajar membagi cinta tanpa mengurangi cinta kepada yang lainnya. Cinta kami kepada Husna, tentu saja tak akan mengurangi cinta kepada Fata. Dan sebaliknya, cinta kepada Fata semoga juga tak menomorduakan cinta kami kepada Husna. Saya pernah diprotes istri gara-gara belum pernah membuat tulisan khusus buat Husna, padahal dulu saya rajin membuat tulisan untuk Fata, bahkan puisi. Dan memang seingat saya baru ‘Soft Launching Nailal Husna’ saja yang saya tulis untuk putri cantik kami itu. Tapi keknya itu bukan ukuran cinta dan tidak cinta deh, hehe.

Semoga Alloh memudahkan urusan ini, memberi kami kesabaran lebih untuk mendidik masing-masing anak kami sesuai porsi dan kebutuhannya. Tak mudah dan sedikit lelah, tapi kalau yang lain bisa, insya Alloh Tuhan akan memudahkan kami juga untuk menunaikan tugas ini.

Mohon saran dari para suhu dan senior yang telah lebih dulu mengalami hal yang kami alami ini :D

Terimakasih dan salut luar biasa Ummu Husna yang setia dan sabar menghadapi kehebohan Fata dan sedikit kerewelan si kecil Husna. We love you, my dear... 

Ads Inside Post